Showing posts with label Sahabat Nabi. Show all posts
Showing posts with label Sahabat Nabi. Show all posts

Saturday, August 11, 2012

Sahabat Nabi - Abdurrahman bin Auf, Sahabat yang Dermawan

Abdurrahman bin Auf adalah salah satu sahabat Rasul yang dijamin masuk surga. Ia masuk Islam setelah Abu Bakar as Shiddiq. Setelah 13 tahun dakwah di Makkah, Rasulullah SAW diperintahkan Allah untuk pindah ke Madinah. Abdurrahman menjadi salah satu Muslim ikut berhijrah.

Berbeda dengan dakwah di Makkah yang cukup sulit, di Madinah Nabi Muhammad SAW disambut sangat baik. Begitu juga dengan Abdurrahman bin Auf. Orang yang berpindah dari Makkah ke Madinah disebut kaum Muhajirin. Sementara, kaum yang menyambut orang-orang yang berhijrah ini disebut kaun Ansar. Nah, Abdurrahman bin Auf disambut sangat baik oleh seseorang yang bernama Sa’ad bin Rabi Al-Anshory.
“Hai teman, aku termasuk orang kaya. Kamu mau apa? Aku punya dua kebun, dua pembantu. Pilih saja mana yang kamu suka,” begitu kata Sa’ad bin Rabi Al-Anshory kepada Abdurrahman bin Auf.

Wah, rupa-rupanya Abdurrahman tak mau memanfaatkan kebaikan Sa’ad bin Rabi Al-Anshory. Abdurrahman menolak tawaran itu dengan halus. “Saya hanya minta tunjukkan di mana pasar,” kata Abdurrahman bin Auf.

Abdurrahman bin Auf merupakan orang yang pintar berjual beli. Kehidupannya berkecukupan. Ia lalu menikah. Begitu banyak berkah yang diberikan Allah kepada Abdurrahman bin Auf. Ia dijuluki ‘sahabar bertangan emas’. Ia menjadi sahabat yang paling kaya.

Ia juga orang yang sangat setia kepada Rasulullah SAW. Ketika ada panggilan perang, Abdurrahman bin Auf selalu datang. Mulai dari perang Badar, perang Uhud. Pengorbaannya sangat besar terutama untuk urusan harta.

“Ya Rasulullah, saya punya uang 4.000 dinar. Yang 2.000 saya sedekahkan di jalan Allah, sisanya untuk keluargaku,” kata Abdurrahman.

Kedermawanan Abdurrahman bin Auf sangat terasa ketika perang Tabuk. Perang Tabuk adalah perang yang sulit. Ketika menghadapi pasukan Romawi, pasukan Islam membutuhkan banyak dana. Nah, saat itu Abdurrahman bin Auf mengorbankan seluruh hartanya untuk perang. Ia sama sekali tidak meninggalkan untuk belanja keluarganya.

“Mereka saya tinggali sebanyak rezeki, kebaikan dan pahala yang dijanjikan Allah,” kata Abdurrahman. Rasul pun mendoakan keberkahan bagi keluarga Abdurrahman bin Auf.

Ketika perang Tabuk, Allah memberinya kemuliaan yang belum pernah dirasakan oleh siapapun. Saat tiba waktu shalat, Rasulullah SAW terlambat datang. Abdurrahman menggantikan sebagai imam.

Ketika shalat hampir selesai, Rasulullah SAW baru datang dan menjadi makmum Abdurrahman bin Auf. Sungguh, Abdurrahman adalah sahabat yang mulia.

Sahabat Nabi - Ammar bin Yasir, Pemuka Syuhada

Yasir bin Amir, ayahanda Ammar, berangkat meninggalkan negerinya di Yaman guna mencari dan menemui salah seorang saudaranya. Rupanya ia berkenan dan merasa betah tinggal di Makkah. Bermukimlah ia di sana dan mengikat perjanjian persahabatan dengan Abu Hudzaifah ibnul Mughirah.

Abu Hudzaifah mengawinkannya dengan salah seorang sahayanya bernama Sumayyah binti Khayyath, dan dari perkawinan ini, kedua suami istri itu dikaruniai seorang putra bernama Ammar.

Keislaman mereka termasuk dalam golongan Assabiqunal Awwalun (generasi pertama). Dan sebagaimana halnya orang-orang saleh yang termasuk dalam golongan yang pertama masuk Islam, mereka cukup menderita karena siksa dan kekejaman Quraisy.

Orang-orang Quraisy menjalankan siasat terhadap Kaum Muslimin sesuai situasi dan kondisi. Seandainya mereka ini golongan bangsawan dan berpengaruh, mereka hadapi dengan ancaman dan gertakan. Dan setelah itu mereka lancarkan kepadanya perang urat syaraf yang amat sengit.

Dan sekiranya yang beriman itu dari kalangan penduduk Makkah yang rendah martabatnya dan yang miskin, atau dari golongan budak belian, maka mereka didera dan disulutnya dengan api bernyala.

Maka keluarga Yasir termasuk dalam golongan yang kedua ini. Dan soal penyiksaan mereka, diserahkan kepada Bani Makhzum. Setiap hari Yasir, Sumayyah dan Ammar dibawa ke padang pasir Makkah yang demikian panas, lalu didera dengan berbagai azab dan siksa.

Penderitaan dan pengalaman Sumayyah dari siksaan ini amat ngeri dan menakutkan, namun Sumayyah telah menunjukkan sikap dan pendirian tangguh, yang dari awal hingga akhirnya telah membuktikan kepada kemanusiaan suatu kemuliaan yang tak pernah hapus dan kehormatan yang pamornya tak pernah luntur.

Rasulullah SAW selalu mengunjungi tempat-tempat yang diketahuinya sebagai arena penyiksaan bagi keluarga Yasir. Ketika itu tidak suatu apa pun yang dimilikinya untuk menolak bahaya dan mempertahankan diri.

Pengorbanan-pengorbanan mulia yang dahsyat ini tak ubahnya dengan tumbal yang akan menjamin bagi Agama dan akidah keteguhan yang takkan lapuk. Ia juga menjadi contoh teladan yang akan mengisi hati orang-orang beriman dengan rasa simpati, kebanggaan dan kasih sayang. Ia adalah menara yang akan menjadi pedoman bagi generasi-generasi mendatang untuk mencapai hakikat agama, kebenaran dan kebesarannya.

Pada suatu hari, ketika Rasulullah SAW mengunjungi mereka, Ammar berkata, "Wahai Rasulullah, azab yang kami derita telah sampai ke puncak."

Rasulullah SAW berkata, "Sabarlah, wahai Abal Yaqdhan... Sabarlah wahai keluarga Yasir, tempat yang dijanjikan bagi kalian ialah surga!"

Siksaan yang diami oleh Ammar dilukiskan oleh kawan-kawannya dalam beberapa riwayat. Berkata Amar bin Hakam, "Ammar itu disiksa sampai-sampai ia tak menyadari apa yang diucapkannya.”

Ammar bin Maimun melukiskan, "Orang-rang musyrik membakar Ammar bin Yasir dengan api. Maka Rasulullah SAW lewat di tempatnya, memegang kepalanya dengan tangan beliau, sambil bersabda, 'Hai api, jadilah kamu sejuk dingin di tubuh Ammar, sebagaimana dulu kamu juga sejuk dingin di tubuh Ibrahim!”

Semenjak hukuman bakar dengan besi panas, sampai disalib di atas pasir panas dengan ditindih batu laksana bara merah, bahkan sampai ditenggelamkan ke dalam air hingga sesak nafasnya dan mengelupas kulitnya yang penuh dengan luka.

Pada hari itu, ketika ia telah tak sadarkan diri lagi karena siksaan yang demikian berat, orang-orang itu berkata kepadanya, “Pujalah olehmu tuhan-tuhan kami!”

Ammar pun mengikuti perintah mereka tanpa menyadari apa yang keluar dari bibirnya. Ketika siuman sebentar akibat dihentikannya siksaan, tiba-tiba ia sadar akan apa yang telah diucapkannya, maka hilanglah akalnya dan terbayanglah di matanya betapa besar kesalahan yang telah dilakukannya, suatu dosa besar yang tak dapat ditebus dan diampuni lagi.

Ketika Rasulullah SAW menemui sahabatnya itu didapatinya ia sedang menangis, maka disapunyalah tangisnya itu dengan tangan beliau seraya berkata, "Orang-orang kafir itu telah menyiksamu dan menenggelamkanmu ke dalam air sampai kamu mengucapkan begini dan begitu?”

“Benar, wahai RasuIullah," ujar Ammar.

Rasulullah tersenyum berkata, “Jika mereka memaksaimu lagi, tidak apa, ucapkanlah seperti apa yang kamu katakan tadi!”

Lalu dibacakan Rasulullah kepadanya ayat mulia berikut ini: "Kecuali orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan..." (QS An-Nahl: 106)

Ammar selalu terjun bersama Rasulullah dalam tiap perjuangan dan peperangan bersenjata, baik di Badar, Uhud, Khandaq, dan Tabuk. Dan tatkala Rasulullah telah wafat, perjuangan Ammar tidaklah berhenti. Ia terus berjuang dan berjihad menegakkan agama Allah.

Ketika terjadi pertentangan antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, Ammar berdiri di samping menantu Rasulullah tersebut. Bukan karena fanatik atau berpihak, tetapi karena tunduk kepada kebenaran dan teguh memegang janji! Ali adalah khalifah kaum Muslimin, dan berhak menerima baiat sebagai pemimpin umat.

Ketika meletus Perang Shiffin yang mengerikan itu, Ammar ikut bersamanya. Padahal saat itu usianya telah mencapai 93 tahun. Orang-orang dari pihak Muawiyah mencoba sekuat daya untuk menghindari Ammar, agar pedang mereka tidak menyebabkan kematiannya hingga menjadi manusia “golongan pendurhaka”.

Tetapi keperwiraan Ammar yang berjuang seolah-olah ia satu pasukan tentara juga, menghilangkan pertimbangan dan akal sehat mereka. Maka sebagian dari anak buah Muawiyah mengintai-ngintai kesempatan untuk menewaskannya. Hingga setelah kesempatan itu terbuka, mereka pun membunuh Ammar.

Maka sekarang tahulah orang-orang siapa kiranya golongan pendurhaka itu, yaitu golongan yang membunuh Ammar, yang tidak lain dari pihak Muawiyah!

Jasad Ammar bin Yassir kemudian dipangku Khalifah Ali, dibawa sebuah ke tempat untuk dishalatkan bersama kaum Muslimin, lalu dimakamkan dengan pakaiannya.

Setelah itu, para sahabat kemudian berkumpul dan saling berbincang. Salah seorang berkata, “Apakah kau masih ingat waktu sore hari itu di Madinah, ketika kita sedang duduk-duduk bersama Rasulullah SAW dan tiba-tiba wajahnya berseri-seri lalu bersabda, "Surga telah merindukan Ammar?"

"Benar," jawab yang lain.

“Dan waktu itu juga disebutnya nama-nama lain, di antaranya Ali, Salman dan Bilal..." timpal seorang lagi.

Bila demikian halnya, maka surga benar-benar telah merindukan Ammar. Dan jika demikian, maka telah lama surga merindukannya, sedang kerinduannya tertangguhkan, menunggu Ammar menyelesaikan kewajiban dan memenuhi tanggungjawabnya. Dan tugas itu telah dilaksanakannya dan dipenuhinya dengan hati gembira.

Sahabat Nabi - Abu Dzar al-Ghifari, Penghulu Kaum Ghifar

Ia datang ke Makkah sambil terhuyung-huyung, namun sinar matanya bersinar bahagia. Memang, sulitnya perjalanan dan teriknya matahari yang menyengat tubuhnya cukup menyakitkan. Namun tujuan yang hendak dicapainya telah meringankan penderitaan dan meniupkan semangat kegembiraan.

Ia memasuki kota dengan menyamar seolah-olah hendak melakukan thawaf mengelilingi berhala-berhala di sekitar Ka'bah, atau seolah-olah musafir yang sesat dalam perjalanan, yang memerlukan istirahat dan menambah perbekalan.

Padahal seandainya orang-orang Makkah tahu bahwa kedatangannya itu untuk menjumpai Nabi Muhammad SAW dan mendengarkan keterangan beliau, pastilah mereka akan membunuhnya.
Pada suatu pagi, lelaki itu, Abu Dzar Al-Ghifari, pergi ke tempat tersebut. Didapatinya Rasulullah sedang duduk seorang diri. Ia mendekat kemudian menyapa, "Selamat pagi, wahai kawan sebangsa."

"Wa alaikum salam, wahai sahabat," jawab Rasulullah.
"Bacakanlah kepadaku hasil gubahan anda!"
"Ia bukan syair hingga dapat digubah, tetapi Alquran yang mulia," kata Rasulullah, kemudian membacakan wahyu Allah SWT.

Tak berselang lama, Abu Dzar berseru, "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bahwa bersaksi bahwa engkau adalah hamba dan utusan-Nya."
"Anda dari mana, kawan sebangsa?" tanya Rasulullah.
"Dari Ghifar," jawabnya.

Ghifar adalah suatu kabilah atau suku yang tidak ada taranya dalam soal menempuh jarak. Mereka jadi contoh perbandingan dalam melakukan perjalanan yang luar biasa. Malam yang kelam dan gelap gulita tak jadi soal bagi mereka. Dan celakalah orang yang kesasar atau jatuh ke tangan kaum Ghifar di waktu malam.

Rasulullah pun bersabda, "Sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada yang disukainya..."
Benar, Allah menunjuki siapa saja yang Dia kehendaki. Abu Dzar adalah salah seorang yang dikehendaki-Nya memperoleh petunjuk, orang yang dipilih-Nya akan mendapat kebaikan. Ia termasuk orang yang pertama-tama masuk Islam. Urutannya di kalangan Muslimin adalah yang kelima atau keenam. Jadi ia telah memeluk agama itu di masa-masa awal, hingga keislamannya termasuk dalam barisan terdepan.

Lelaki yang bernama Jundub bin Junadah ini termasuk seorang radikal dan revolusioner. Telah menjadi watak dan tabiatnya menentang kebatilan di mana pun ia berada.

Baru saja masuk Islam, ia sudah mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah. "Wahai Rasulullah, apa yang sebaiknya saya kerjakan menurut anda?"

"Kembalilah kepada kaummu sampai ada perintahku nanti!" jawab Rasulullah.
"Demi Tuhan yang menguasai jiwaku," kata Abu Dzar, "Saya takkan kembali sebelum meneriakkan Islam di depan Ka'bah."

Ia pun menuju menuju Haram dan menyerukan syahadat dengan suara lantang. Akibatnya, ia dipukuli dan disiksa oleh orang-orang musyrik yang tengah berkumpul di sana. Rasulullah kembali menyuruhnya pulang dan menemui keluarganya. Ia pun pulang ke Bani Ghifar dan mengajak sanak kerabatnya memeluk agama baru ini.
Ketika Rasulullah dan kaum Muslimin telah berhijrah ke Madinah dan menetap di sana, pada suatu hari, barisan panjang yang terdiri atas para pengendara dan pejalan kaki menuju pinggiran kota.
Begitu rombongan besar itu mendekat, lalu masuk ke dalam kota dan masuk ke Masjid Rasulullah, ternyata mereka tiada lain adalah kabilah Bani Ghifar. Semuanya telah masuk Islam tanpa kecuali; laki-laki, perempuan, orang tua, remaja dan anak-anak.

Rasulullah semakin takjub dan kagum. Beliau bersabda, "Takkan pernah lagi dijumpai di bawah langit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar. Benar batinnya, benar juga lahirnya. Benar akidahnya, benar juga ucapannya."

Pada suatu ketika, Rasulullah SAW mengajukan pertanyaan kepadanya. "Wahai Abu Dzar, bagaimana pendapatmu bila menjumpai para pembesar yang mengambil upeti untuk diri mereka?"

Ia menjawab, "Demi Allah yang telah mengutus anda dengan kebenaran, akan saya tebas mereka dengan pedangku!"

"Maukah kau kutunjukkan jalan yang lebih baik dari itu? Bersabarlah hingga kau menemuiku!
Abu Dzar telah mencurahkan segala tenaga dan kemampuannya untuk melakukan perlawanan secara damai dan menjauhkan diri dari segala kehidupan dunia. Ia menjadi maha guru dalam seni menghindarkan diri dari godaan jabatan dan harta kekayaan.

Abu Dzar mengakhiri hidupnya di tempat sunyi bernama Rabadzah, pinggiran Madinah. Ketika menghadapi sakaratul maut, istrinya menangis di sisinya. Ia bertanya, "Apa yang kau tangiskan, padahal maut itu pasti datang?"

Istrinya menjawab, "Karena engkau akan meninggal, padahal kita tidak mempunyai kain kafan untukmu!"

"Janganlah menangis," kata Abu Dzar, "Pada suatu hari, ketika aku berada di majelis Rasulullah bersama beberapa sahabat, aku mendengar beliau bersabda, 'Pastilah ada salah seorang di antara kalian yang akan meninggal di padang pasir liar, dan disaksikan oleh serombongan orang beriman.'

Semua yang ada di majelis itu sudah meninggal di kampung, di hadapan kaum Muslimin. Tak ada lagi yang masih hidup selain aku. Inilah aku sekarang, menghadapi sakaratul maut di padang pasir. Maka perhatikanlah jalan itu, siapa tahu kalau rombongan orang-orang beriman itu sudah datang. Demi Allah, aku tidak bohong, dan tidak juga dibohongi!"

Ruhnya pun kembali ke hadirat Ilahi... Dan benarlah, ada rombongan kaum Muslimin yang lewat yang dipimpin oleh Abdullah bin Mas'ud. Sebelum sampai ke tujuan, Ibnu Mas'ud melihat sosok tubuh terbujur kaku, sedang di sisinya terdapat seorang wanita tua dan seorang anak kecil, kedua-duanya menangis.

Ketika pandangan Ibnu Mas'ud jatuh ke mayat tersebut, tampaklah Abu Dzar Al-Ghifari. Air matanya mengucur deras. Di hadapan jenazah itu, Ibnu Mas'ud berkata, "Benarlah ucapan Rasulullah, anda berjalan sendirian, mati sendirian, dan dibangkitkan kembali seorang diri!"

sumber: republika

Sahabat Nabi - Hudzaifah Ibnul Yaman, Pemegang Rahasia Rasulullah

Pada puncak Perang Khandaq, Rasulullah memerintahkan Hudzaifah melaksanakan suatu tugas yang amat berbahaya. Beliau mengutus Hudzaifah ke jantung pertahanan musuh, dalam kegelapan malam yang hitam pekat.

"Ada beberapa peristiwa yang dialami musuh. Pergilah engkau ke sana dengan sembunyi-sembunyi untuk mendapatkan data-data yang pasti. Dan laporkan kepadaku segera!" perintah beliau.

Hudzaifah pun bangun dan berangkat dengan ketakutan dan menahan dingin yang sangat menusuk.

Tatkala ia memalingkan diri dari Rasulullah, beliau memanggilnya dan berkata, "Hai Hudzaifah, sekali-kali jangan melakukan tindakan yang mencurigakan mereka sampai tugasmu selesai, dan kembali kepadaku!"

"Saya siap, ya Rasulullah," jawab Hudzaifah.

Hudzaifah pun pergi dengan sembunyi-sembunyi dan hati-hati sekali, dalam kegelapan malam yang hitam kelam. Ia berhasil menyusup ke jantung pertahanan musuh dengan berlagak seolah-olah anggota pasukan mereka. Belum lama berada di tengah-tengah mereka, tiba-tiba terdengar Abu Sufyan memberi komando.

"Hai, pasukan Quraisy, dengarkan aku berbicara kepada kamu sekalian. Aku sangat khawatir, hendaknya pembicaraanku ini jangan sampai terdengar oleh Muhammad. Karena itu, telitilah lebih dahulu setiap orang yang berada di samping kalian masing-masing!"

Mendengar ucapan Abu Sufyan, Hudzaifah segera memegang tangan orang yang di sampingnya seraya bertanya, "Siapa kamu?"

Jawabnya, "Aku si Fulan, anak si Fulan."

Sesudah dirasanya aman, Abu Sufyan melanjutkan bicaranya, "Hai, pasukan Quraisy. Demi Tuhan, sesungguhnya kita tidak dapat bertahan di sini lebih lama lagi. Hewan-hewan kendaraan kita telah banyak yang mati. Bani Quraizhah berkhianat meninggalkan kita. Angin topan menyerang kita dengan ganas seperti kalian rasakan. Karena itu, berangkatlah kalian sekarang dan tinggalkan tempat ini. Sesungguhnya aku sendiri akan berangkat."

Selesai berkata demikian, Abu Sufyan kemudian mendekati untanya, melepaskan tali penambat, lalu dinaiki dan dipukulnya. Unta itu bangun dan Abu Sufyan langsung berangkat. Seandainya Rasulullah tidak melarangnya melakukan suatu tindakan di luar perintah sebelum datang melapor kepada beliau, tentu ia akan membunuh Abu Sufyan dengan pedangnya.

Hudzaifah Ibnul Yaman sangat cermat dan teguh memegang segala rahasia mengenai orang-orang munafik selama hidupnya, sampai kepada seorang khalifah sekali pun. Bahkan Khalifah Umar bin Khathtab, jika ada orang Muslim yang meninggal, dia bertanya, "Apakah Hudzaifah turut menyalatkan jenazah orang itu?" Jika mereka menjawab, "Ada," Umar turut menyalatkannya.

Suatu ketika, Khalifah Umar pernah bertanya kepada Hudzaifah dengan cerdik, "Adakah di antara pegawai-pegawaiku orang munafik?"

"Ada seorang," jawab Hudzaifah.

"Tolong tunjukkan kepadaku siapa?" kata Umar.

Hudzaifah menjawab, "Maaf Khalifah, saya dilarang Rasulullah mengatakannya."

Walau demikian, amat sedikit orang yang mengetahui bahwa Hudzaifah Ibnul Yaman sesungguhnya adalah pahlawan penakluk Nahawand, Dainawar, Hamadzan, dan Rai. Dia membebaskan kota-kota tersebut bagi kaum Muslimin dari genggaman kekuasaan Persia. Hudzaifah juga termasuk tokoh yang memprakarsai keseragaman mushaf Alquran, sesudah kitabullah itu beraneka ragam coraknya di tangan kaum Muslimin.

Ketika Hudzaifah sakit keras menjelang ajalnya tiba, beberapa orang sahabat datang mengunjunginya pada tengah malam. Hudzaifah bertanya kepada mereka,"Pukul berapa sekarang?"

Mereka menjawab, "Sudah dekat Subuh."

Hudzaifah berkata, "Aku berlindung kepada Allah dari Subuh yang menyebabkan aku masuk neraka."

Ia bertanya kembali, "Adakah kalian membawa kafan?"

Mereka menjawab, "Ada."

Hudzaifah berkata, "Tidak perlu kafan yang mahal. Jika diriku baik dalam penilaian Allah, Dia akan menggantinya untukku dengan kafan yang lebih baik. Dan jika aku tidak baik dalam pandangan Allah, Dia akan menanggalkan kafan itu dari tubuhku."

Sesudah itu dia berdoa kepada Allah, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu, aku lebih suka fakir daripada kaya, aku lebih suka sederhana daripada mewah, aku lebih suka mati daripada hidup."

Sesudah berdoa demikian, ruhnya pun pergi menghadap Ilahi. Seorang kekasih Allah kembali kepada Allah dalam kerinduan. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya.

Artikel - Meneladani Kesederhanaan Abu Dzar Al-Ghifari

Abu Dzar datang tergopoh-gopoh ke Makkah. Ia mencari Rasulullah. Abu Dzar sudah berjalan dari negeri bernama Ghifar menuju Makkah. Ghifar adalah suatu tempat yang sangat jauh dari Makkah. Tak ada yang bisa menandingi jauh nya Ghifar.

“Kamu dari mana?” tanya Rasul ketika Abu Dzar menemuinya. Abu Dzar ingin menemui Rasul hanya ingin menyatakan keislamannya. “Saya dari Ghifar,” kata Abu Dzar.

Rasulullah takjub sekali dengan Abu Dzar. Agama Islam yang dibawanya sampai hingga negeri Ghifar yang sangat jauh. Abu Dzar menyatakan memeluk Islam. Ia merupakan orang-orang yang memeluk Islam pertama ka li. Ketika itu, Nabi berdakwah dengan sembu nyi-sembunyi. Tapi, tak ada kata sembunyi dalam kamusnya.

Ia langsung menyatakan keislamannya. Ia pergi ke Masjidil Haram dan berteriak menyatakan keislamannya. “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah,” teriak Abu Dzar.

Teriakan itu menentang kesombongan kaum kafir Quraisy. Akibatnya, Abu Dzar disiksa. Orang-orang memukulinya. Berita dipukulinya Abu Dzar akhirnya sampai ke telinga paman nabi. “Anda semua pedagang. Ia Bani Ghifar. Apakah kamu tidak takut orang-orang Ghifar akan merampok kamu nanti?”

Orang-orang berhenti memukuli Abu Dzar. Abu Dzar lalu kembali ke Ghifar. Kepada penduduk Ghifar ia menceritakan tentang Nabi Muhammad. Penduduk Ghifar banyak yang memeluk Islam.

Abu Dzar memeluk Islam dengan taat. Ia berdakwah menemui pusat-pusat kekuasaan. Ia berdakwah agar para pembesar bersikap dermawan dan tidak menumpuk kekayaan. Ia mengajarkan hidup sederhana dan tidak boros. Ia menyerukan agar tidak berlaku curang dalam mengumpulkan harta.

Nama Abu Dzar terkenal. “Beritakan kepada penumpuk harta, mereka akan disetrika dengan setrika api neraka,” kata Abu Dzar. Kalimat itu menjadi dakwah khas Abu Dzar.

Abu Dzar tetap hidup dengan kesederhanaannya. Ia masih memakai baju usang. Abu Dzar selalu bersyukur dengan semua pemberian Allah. Ia sangat sederhana dan tidak cinta dunia.

Sumber: disarikan dari karya Khalid Muh Khalid dalam buku Karakteristik Peri Hidup Sahabat Rasulullah.

Thursday, August 9, 2012

Sahabat Nabi - Di Balik Keharuman Nama Besar Umar bin Khattab

Separuh hidup lelaki tua itu dalam kekelaman jahiliyah. Tumbuh dalam kehidupan yang keras. Dhajanan adalah kenangan. Adalah sejarah masa kecil. Adalah bukit yang abadi dalam ingatannya. Sebab di sana ia menggembala unta. Di sana ia mendapat pendidikan keras. Dan di sana kepribadian itu terbentuk. Tidak seperti anak-anak yang lain, masa mudanya dihabiskan dengan hura-hura dan bergelimang harta. Ia kesepian, sendiri di bukit itu. Tapi Al-Khathab tidak peduli padanya.

“Sungguh, aku telah coba melupakan kenangan itu, tapi hati kecilku berkata padaku.”

Ia memang tidak menyukai takdir itu. Tapi ia belajar berdamai dengan dirinya bahwa itulah yang terbaik untuknya. Ia juga tahu diri. Karena itu ia belajar banyak hal; baca tulis, bergulat, menunggang kuda, mencipta dan mendendang syair. Kemudian ia menaruh perhatian terhadap masalah sejarah dan urusan bangsa Arab. Sosial, politik dan budaya mereka. Ia giat belajar di universitas itu, Pasar Ukazh. Dan kini takdir itulah yang telah mengajarinya tegar dalam menanggung beban berat. Takdir itulah yang memberinya keberanian. Takdir itulah yang menciptakan misi: ia ingin membuktikan bahwa dunia itu salah. Ia bisa berbuat dan menghasilkan sesuatu. Dan kelak, takdir itu pula yang membawanya pada kemuliaan. Ia adalah orang yang diberi ilham. Ia yang memiliki kemampuan seperti nabi. Ia adalah Umar bin Khathab.

Menginjak masa muda, ia mulai menekuni dunia bisnis. Melakukan kunjungan niaga ke berbagai daerah. Pada musim panas, Ia berniaga ke negeri Syam dan pada saat musim dingin berniaga ke negeri Yaman. Dari perniagaan itu ia mendapat dua keuntungan besar: harta dan ilmu. Harta menghantarkannya menjadi salah satu orang terkaya di Mekah. Sedang ilmu mengantarkannya menjadi orang besar.

Tiga puluh tahun dalam jahiliyah. Umar dapat menduduki posisi strategis di tengah masyarakat Mekah. Kontribusinya sangat signifikan terhadap berbagai peristiwa. Suku Quraisy mempercayainya sebagai hakim. Seperti kata Ibnu Sa’ad: “Sebelum masuk Islam, Umar sudah terbiasa menyelesaikan pelbagai sengketa yang terjadi di kalangan bangsa Arab.” Ia terkenal sebagai orang yang bijaksana, bicaranya fasih, pendapatnya baik, kuat, penyantun, terpandang, argumentasinya kokoh, dan bicaranya jelas.

Saat bangsa Arab berada di antara dua imperium besar: Persia dan Romawi. Bangsa Arab tidak memiliki pusat pemerintahan yang mengintegrasi mereka. Dan mengatur seluruh sisi kehidupan mereka. Setiap suku mencerminkan kesatuan politik yang independen. Suku-suku bangsa Arab saat itu saling bermusuhan. Bahasa sosial mereka adalah rimba raya. Hidup dengan cara melakukan perampasan dan penghadangan di tengah jalan. Di antara mereka terjadi perang yang berlarut-larut sebab hal sepele. Maka pantas Umar bin Khathab diangkat menjadi delegasi suku Quraisy. Duta untuk menangani konflik di antara mereka.

Barangkali sebab itu Allah SWT memilih Umar bin Khathab dari pada Amr bin Hisyam. Mungkin sebab itu pula masa kecil Umar bin Khathab begitu keras. Allah ingin ia menghabiskan separuh hidupnya lagi untuk membantu Rasulullah dalam berdakwah. Dan itu adalah tugas yang lebih berat dari kehidupan masa kecilnya yang dianggapnya berat. Sekaligus itu adalah jawaban doa Rasulullah: “Ya Allah, muliakan Islam dengan orang yang paling Engkau cintai dari kedua orang ini; Amr bin Hisyam atau Umar bin Khathab.”

Begitulah kisah dibalik keharuman namanya. Tidak ada orang besar tanpa kehidupan yang keras. Tidak ada orang hebat tanpa pembelajaran. Umar tidak pernah putus asa dari takdirnya. Baik takdir dirinya ataupun bangsanya saat itu. Karena itu, jika takdirmu berbeda dengan yang lain. Maka bedalah cara hidupmu dari yang lain.


Sunday, August 5, 2012

Sahabat Nabi - Ubadah bin Shamit, Sang Penentang Kezaliman

“Sekiranya orang-orang Anshar menuruni lembah atau celah bukit, pasti aku akan mendatangi lembah dan celah bukit orang-orang Anshar. Dan kalau bukanlah karena hijrah, tentulah aku akan menjadi salah seorang warga Anshar!”

Demikian ungkapan Rasulullah terhadap orang Anshar. Mereka adalah para sahabat yang berada di Madinah dan menolong kaum Muslimin yang hijrah ke tempat mereka. Karena itulah mereka dipanggil dengan Anshar yang berarti penolong.

Di antara mereka ini adalah Ubadah bin Shamit. Di samping seorang warga Kaum Anshar, ia merupakan salah seorang pemimpin mereka yang dipilih Nabi SAW sebagai utusan yang mewakili keluarga dan kaum kerabat mereka.

Ubadah termasuk utusan Anshar yang pertama datang ke Makkah untuk mengangkat baiat kepada Rasulullah SAW dan masuk Islam, yakni baiat yang terkenal sebagai Baiatul Aqabah pertama. Ia termasuk salah seorang dari 12 orang beriman yang segera menyatakan keislaman dan mengangkat baiat, serta menjabat tangannya, menyatakan sokongan dan kesetiaan kepada Rasulullah SAW.

Dan ketika datang musim haji tahun berikutnya, yakni saat terjadinya Baiatul Aqabah kedua yang diikuti 70 orang beriman, Ubadah menjadi utusan dan wakil orang-orang Anshar. Kemudian, ketika peristiwa berturut- turut silih berganti, saat-saat perjuangan, dan pengorbanan susul-menyusul tiada henti, Ubadah tak pernah tertinggal dalam setiap peristiwa.

Semenjak ia menyatakan, Allah dan Rasul sebagai pilihannya, maka dipikulnya segala tanggung jawab akibat pilihannya itu dengan sebaik- baiknya. Segala cinta kasih dan ketaatannya hanya tertumpah kepada Allah, dan segala hubungan baik dengan kaum kerabat, dengan sekutu-sekutu maupun dengan musuh-musuhnya, hanya sesuai dan menuruti pola yang dibentuk oleh keimanan dan norma-norma yang dikehendaki oleh keimanan ini.

Semenjak dulu, keluarga Ubadah telah terikat dalam suatu perjanjian dengan orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’ di Madinah. Ketika Rasulullah SAW bersama para sahabatnya hijrah ke kota ini, orang-orang Yahudi memperlihatkan sikap damai dan persahabatan terhadapnya.

Tetapi pada hari-hari yang antara Perang Badar yang mendahului Perang Uhud, orang-orang Yahudi di Madinah mulai menampakkan belangnya. Salah satu kabilah mereka, yaitu Bani Qainuqa’ membuat ulah untuk menimbulkan fitnah dan keributan di kalangan kaum Muslimin.

Melihat hal ini, Ubadah secepatnya ia melakukan tindakan yang setimpal dengan jalan membatalkan perjanjian dengan mereka. Ia berkata, “Saya hanya akan mengikuti pimpinan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman!”

Tidak lama kemudian turunlah ayat Alquran memuji sikap dan kesetiaannya ini melalui firman-Nya, “Dan barangsiapa yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman sebagai pemimpin, maka sungguh, partai atau golongan Allahlah yang beroleh kemenangan.” (QS. Al-Maidah: 56).

Ubadah bin Shamit yang mulanya hanya menjadi wakil kaum keluarganya dari suku Khazraj, sekarang meningkat menjadi salah seorang pelopor Islam, dan salah seorang pemimpin kaum Muslimin.

Pada suatu hari Rasulullah SAW, menjelaskan tanggung jawab seorang amir atau wali. Didengarnya Rasulullah menyatakan nasib yang akan menimpa orang-orang yang melalaikan kewajiban di antara mereka atau memperkaya dirinya dengan harta, maka tubuh Ubadah gemetar dan hatinya berguncang.

Ia bersumpah kepada Allah tidak akan menjadi pemimpin walau atas dua orang sekalipun. Dan sumpahnya ini dipenuhi sebaik-baiknya dan tak pernah dilanggarnya.

Di masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khathab, tokoh yang bergelar Al-Faruq ini pun tidak berhasil mendorongnya untuk menerima suatu jabatan, kecuali dalam mengajar Umar dan memperdalam pengetahuan mereka dalam soal agama.

Memang, inilah satu-satunya usaha yang lebih diutamakan Ubadah dari lainnya, menjauhkan dirinya dari usaha-usaha lain yang ada sangkut-pautnya dengan harta benda dan kemewahan serta kekuasaan. Oleh sebab itu, ia berangkat ke Suriah dan merupakan salah seorang dari tiga sekawan, bersama Mu’adz bin Jabal dan Abu Darda, menyebarkan ilmu, pengertian dan cahaya bimbingan di negeri itu.

Ubadah juga pernah berada di Palestina untuk beberapa waktu dalam melaksanakan tugas sucinya, sedang yang menjalankan pemerintahan ketika itu adalah Muawiyah. Ubadah termasuk rombongan perintis yang telah dididik oleh Nabi Muhammad SAW dengan tangannya sendiri, yang telah beroleh limpahan mental, cahaya dan kebesarannya.

Dan seandainya di kalangan orang-orang yang masih hidup, ada yang dapat ditonjolkan untuk percontohan luhur sebagai kepala pemerintahan yang dikagumi oleh Ubadah dan dipercayainya, maka orang itu tidak lain tokoh terkemuka yang sedang berkuasa di Madinah; Umar bin Khathab.

Sekiranya Ubadah melanjutkan renungannya dan membanding-bnadingkan tindak-tanduk Muawiyah dengan apa yang dilakukan oleh Khalifah Umar, jurang pemisah di antara keduanya menganga lebar, dan sebagai akibatnya akan terjadilah bentrokan dan memang telah terjadi.

Berkata Ubadah bin Shamit RA, “Kami telah baiat kepada Rasulullah SAW, tidak takut akan ancaman siapa pun dalam menaati Allah!”

Ubadah adalah seorang yang paling teguh memenuhi baiat. Dan jika demikian, maka ia tidak akan takut pada Muawiyah dengan segala kekuasaannya, dan ia akan tegak mengawasi segala kesalahan Muawiyah.

Waktu itu penduduk Palestina menyaksikan peristiwa luar biasa, dan tersiarlah berita ke sebagian besar negeri Islam tentang perlawanan berani yang dilancarkan Ubadah terhadap Muawiyah, sehingga menjadi contoh teladan bagi mereka.

Bagaimana pun juga terkenalnya Muawiyah sebagai orang yang gigih dan ulet, tetapi sikap dan pendirian Uabadah itu tidak urung menyebabkan sesak nafas. Hal itu dipandangnya sebagai ancaman langsung terhadap wibawa dan kekuasaannya.

Ubadah juga melihat jarak pemisah di antara dirinya dengan Muawiyah, kian bertambah lebar. Akhirnya, ia berkata kepada Muawiyah, “Demi Allah, aku tidak ingin tinggal sekediaman denganmu untuk selama-lamanya!” Lalu Ubadah pun meninggalkan Palestina dan berangkat ke Madinah.

Amirul Mukminin Umar adalah seorang yang memiliki kecerdasan tinggi dan berpandangan jauh ke depan. Ia selalu menginginkan kepala-kepala daerah tidak hanya mengandalkan kecerdasannya semata dan menggunakannya tanpa reserve.

Maka terhadap orang seperti Muawiyah dan kawan-kawannya, tidak dibiarkan begitu saja tanpa didampingi sejumlah sahabat yang zuhud dan saleh, serta penasihat yang tulus ikhlas. Mereka bertugas membendung keinginan-keinginan yang tidak terbatas, dan selalu mengingatkan mereka akan hari-hari dan masa Rasulullah SAW.

Oleh sebab itu, ketika Umar RA melihat Ubadah telah berada di Kota Madinah, ia bertanya, “Apa yang menyebabkanmu ke sini, wahai Ubadah?”

Ubadah menceritakan peristiwa yang terjadi antara dirinya dengan Muawiyah. Umar berkata, “Kembalilah segera ke tempatmu! Amat buruk jadinya suatu negeri yang tidak memiliki orang sepertimu.”

Kepada Muawiyah juga dikirim surat yang di antara isinya terdapat kalimat, “Tak ada wewenangmu sebagai amir terhadap Ubadah.”

Memang, Ubadah menjadi amir bagi dirinya. Jika Umar Al-Faruq sendiri telah memberikan penghormatan kepada seseorang setinggi ini, tentulah dia seorang besar! Dan sungguh, Ubadah adalah seorang besar, baik karena keimanan, maupun karena keteguhan hati dan kelurusan jalan hidupnya.

Pada tahun 34 Hijriyah, ia meninggal dunia di Ramlah, Palestina. Utusan Anshar khususnya, dan agama Islam pada umumnya ini meninggalkan teladan yang tinggi dalam arena kehidupan. Ia seorang penegak kebenaran dan pelurus penyelewengan.

Sumber: 101 Sahabat Nabi karya Hepi Andi Bastoni

Saturday, August 4, 2012

Sahabat Nabi - Kepemimpinan Khalifah Abu Bakar dan Umar

Setelah Rasulullah saw wafat dan Abu Bakar resmi diangkat menjadi pengganti beliau mewakili suku Quraisy, maka stabilitas politik mulai terkoyak. Bila dibincangkan lebih lanjut, maka pemurtadan yang marak terjadi saat itu lebih merupakan pertimbangan politik bukan akidah semata. Inilah tugas berat Abu Bakar yang harus diselesaikan lebih dahulu.
Ibn al-Atsir (wafat tahun 630 H/1232 M) mengilustrasikan suasana politik pasca wafatnya Rasulullah SAW dan dibai’atnya Abu Bakar sebagai berikut:

“Semenjak Rasulullah Saw wafat dan berita dukanya sampai ke Makkah dibawa oleh ‘Uttab ibn Usaid ibn Abi al-‘Ash ibn Umayyah, Uttab menyamar dan mengharap penduduk Makkah yang semuanya hampir murtad kembali kepada Islam. Kemudian Suhail ibn ‘Amar berdiri di depan pintu Ka’bah dan berteriak kepada mereka:

Berkumpullah wahai penduduk Makkah…….! kemudian dia berpidato: “Janganlah kalian menjadi orang yang terakhir masuk Islam kemudian paling awal murtadnya. Demi Allah, pasti Allah memberi anugrah sebagaimana yang diucapkan Rasulullah SAW. Beliau bersabda: “Ucapkanlah besertaku kalimat la ilaha illa Allah, niscaya kamu akan menguasai orang Arab dan non-Arab. Mereka akan membayar pajak kepadamu”. (Al-Kamil fi al-Tarikh, Juz II, hal.324).

Dr. Hasan Ibrahim Hasan menambahkan, …..pada saat bani Tsaqif di Thaif akan menyatakan kemurtadan, Usman ibn Abi al-Ash menyarankan: wahai warga bani Tsaqif, kamu sekalian merupakan orang yang terakhir masuk Islam, maka janganlah kalian menjadi orang yang pertama murtad. Kemenangan Arab merupakana kemenangan keluarga kita. Antara Thaif dan Makkah masih ada tali persaudaraan (qarabah) dan jalur keturunan (nasab). Setelah itu mereka semua mempertahankan ke-Islamannya. (Tarikh al-Islami al-Siyasi wa al-Dini wa al-Tsaqafi wa al-Ijtima’i, juz 1, hal. 346).

Dengan demikian, nampaklah bahwa pada saat itu situasi bangsa Arab hampir seluruhnya murtad, terkecuali penduduk Madinah yang memang memiliki keimanan yang handal. Sedangkan penduduk Makkah bertahan dalam Islam lebih karena harta rampasan perang (ghanimah) dan penduduk Thaif lebih karena pertalian kabilah.

Syukurlah, Abu Bakar cepat memulihkan stabilitas politik dan keamanan negara saat itu. Beliau memutuskan untuk menumpas dan memerangi orang-orang yang murtad, orang-orang yang menolak membayar zakat (inkar al-Zakat) dan para nabi palsu, meskipun ada sebagian sahabat yang tidak sependapat dengan langkah tersebut. Pada sisi lain, secara politis Islam sudah mulai melebarkan sayapnya melakukan ekspansi keluar semenanjung Arab, seperti ke negara Syam (Syria) dan Persia.

Setelah memerintah selama dua tahun, pada tanggal 21 Jumada al-Akhir 13 H (22 Agustus 634 M) Abu Bakar wafat. Sepeninggal beliau tampuk khalifah dipegang oleh Umar ibn Khatab. Suksesi kepemimpinan kepada Umar ini lebih didasarkan pada pesan (wasiat) Abu Bakar kepada Umar sebagai waliy al-‘ahdi (baca: putra mahkota). Oleh karena itu wajarlah meskipun Umar ibn Khatab sukses memimpin negara, masih juga banyak suara sumbang yang datang dari orang-orang non-Islam yang berkoalisi dengan orang-orang munafiqin. Puncak kebencian mereka itulah yang menyebabkan Umar ibn Khatab terbunuh di tangan Abu Lu’lu’ah.

Abu Lu’luah adalah ahli membuat pedang dari kota Kufah. Sebenarnya, keberadaannya di kota Madinah sejak semula ditolak oleh Umar sebab seorang tawanan kalau sudah menginjak dewasa tidak diizinkan tinggal di Madinah, apalagi dia masih memeluk agama Majusi. Kemudian al-Mughirah sebagai Amir Kufah saat itu menulis surat kepada khalifah dan meyakinkan tentang pentingnya profesi Abu Lu’lu’ah bagi kepentingan umat Islam. Akhirnya Umar menyetujui permintaan al-Mughirah tersebut. Lalu datanglah Abu Lu’lu’ah ke Madinah bahkan ia digaji 100 (seratus) dirham setiap bulan. Namun, karena ia masih beragama Majusi, maka setiap bulannya dikenakan kharaj (pajak kepala). Dalam kondisi seperti itu Bani Umayyah yang dapat dikatakan sebagai oposisi khalifah Umar (karena Umar tidak berasal dari keturunan Umayyah) menghasut Abu Lu’lu’ah untuk mengajukan dispensasi kepada khalifah agar terbebas dari kharaj sebab jasanya terhadap negara sangat banyak. Abu Lu’lu’ah bergegas mengajukan permintaan tersebut. Namun, khalifah Umar menjawab, “Ini sudah peraturan, lagi pula gajimu sudah cukup besar”.

Permohonan pembebasan kharaj seperti ini dilakukan oleh Abu Lu’lu’ah berulang kali, sehingga karena merasa jengkel dan dendam terhadap sikap Khalifah Umar, ia memberanikan diri membunuh Umar di saat menjadi Imam shalat Subuh.

(Disarikan dari buku Aswaja dalam Lintas Sejarah karya KH. Said Aqil Siradj) / nu.or.id

Sahabat Nabi - Masa Kekhalifahan Usman Ibn Affan

Sepeniggal khalifah Umar, sebenarnya peluang Ali ibn Abi Thalib menjadi khalifah cukup besar sebab hampir semua syarat ideal sebagai seorang khalifah terdapat pada dirinya. Dia adalah salah seorang yang dijamin masuk surga (ahad al-mubasy-syarina bi-aljannah), orang yang pertama masuk Islam dari kelompok anak-anak (awwalu man aslama min al-sibyan), menantu dan sepupu Nabi Muhammad SAW, keluarga terhormat dan ilmunya sangat luar biasa. Ali juga seorang sahabat yang tidak pernah absen dalam peprangan, bahkan ia adalah penjebol benteng Yahudi pada perang Khaibar. Tetapi, sebelum wafat khalifah Umar berwasiat, “Seandainya Abu Ubaidillah bin al-Jarrah masih hidup, jabatan khalifah akan saya serahkan kepadanya.

Karena dia sudah meninggal saya tidak bisa menunjuk seseorang. Masalah ini akan saya serahkan kepada enam tokoh sebagai tim formatur. Anak saya Abdullah ibn Umar masuk dalam tim, namun tidak boleh dipilih. Dari bani Adiy cukup saya saja yang menjadi khalifah. Enam orang tersebut adalah Ali ibn Abi Thalib, Usman ibn Affan, Abdurrahman ibn Auf, Sa’ad ibn Abi Waqaz, Zubair ibn Awwam dan Thalhah ibn Ubaidillah. Selama empat hari sudah harus ada keputusan mengenai pengganti khalifah. Kalau belum, maka ketua tim segera mengambil kebijaksanaan. Siapa yang tidak menyetujui apa yang sudah disepakati bunuhlah dia.

Musyawarah pun berjalan alot. Faktor kabilah menjadi penting. Zubair tidak bisa maju, karena Ali yang sama-sama dari bani Hasyim. Sa’ad ibn Abi Waqqas peluangnya tipis, karena berasal dari Bani Zahrah, suatu kabilah yang tidak punya wibawa dan prestis dibanding lainnya. Thalhah sama dengan Umar dari Bani Adiy, sehingga tidak mungkin maju. Nominator terkuat berarti Abdurrahman ibn Auf al-Zuhriy, Usman (Bani Umayyah) dan Ali (bani Hasyim). Abdurrahman tidak mungkin maju karena ada yang lebih senior, maka calon khalifah tinggal Ali dan Usman saja.

Unsur fanatisme kabilah dalam sidang formatur sangat berperan. Pada akhirnya, kunci berada pada Abdurrahman ibn Auf yang memilih Usman. Pemilihan ini dilakukan setelah melalui lobi yang ketat dengan kedua kandidat. Saat menemui Ali dia bertanya, “Seandainya engkau tidak termasuk orang yang dicalonkan, siapa yang kamu pilih?”. Ali menjawab “Usman”. Kemudian ia langsung menemui Usman dan menanyakan, “seandainya engkau di luar enam calon, siapa yang kamu pilih sebagai khalifah?”, Usman menjawab “Ali”. Karena keduanya sama-sama kuat, akhirnya Abdurrahman ibn Auf menetapkan Usman sebagai Khalifah. Penetapan ini (sekecil apapun) ada pertimbangan kabilahnya. Dan sekedar informasi, bahwa istri Abdurrahman ibn Auf (Ummi Kulsum) adalah saudara se-Ibu Usman bin Affan.

(Disarikan dari buku Aswaja dalam Lintas Sejarah karyaKH. Said Aqil Siradj) nu.or.id

Friday, August 3, 2012

Sahabat Nabi - Hamzah bin Abdul Muthalib, Pemimpin Para Syuhada

Pada suatu hari Hamzah bin Abdul Muthalib keluar dari rumahnya sambil membawa busur dan anak panah untuk berburu. Sejak muda, paman Rasulullah ini memang hobi dan gemar berburu binatang.

Setelah hampir seharian menghabiskan waktunya di tempat perburuan tanpa mendapatkan hasil, ia pun beranjak pulang. Sebelum kembali ke rumahnya, ia lebih dulu mampir di Ka'bah untuk melakukan thawaf.

Sebelum sampai di Ka'bah, seorang budak perempuan milik Abdullah bin Jud'an At-Taimi menghampirinya seraya berkata,"Hai Abu Umarah, andai saja tadi pagi kau melihat apa yang dialami oleh keponakanmu, Muhammad bin Abdullah, niscaya kamu tidak akan membiarkannya. Ketahuilah, bahwa Abu Jahal bin Hisyam telah memaki dan menyakiti keponakanmu itu, hingga akhirnya ia mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya."

Usai mendengarkan panjang lebar peristiwa yang dialami oleh keponakannya, Hamzah terdiam sambil menundukkan kepalanya sejenak. Ia kemudian membawa busur dan anak panahnya, kemudian bergegas menuju Ka'bah dan berharap dapat bertemu Abu Jahal di sana.

Sampai di Ka'bah ia melihat Abu Jahal dan beberapa pembesar Quraisy sedang berbincang-bincang. Dengan tenang Hamzah mendekati Abu Jahal. Lalu dengan gerakan yang cepat ia lepaskan busur panahnya dan dihantamkan ke kepala Abu Jahal berkali-kali hingga jatuh tersungkur. Darah segar mengucur deras dari dahinya.

"Mengapa kamu memaki dan mencederai Muhammad, padahal aku telah menganut agamanya dan meyakini apa yang dikatakannya? Sekarang, coba ulangi kembali makian dan cercaanmu itu kepadaku jika kamu berani!" bentak Hamzah kepada Abu Jahal.

Dalam beberapa saat, orang-orang yang berada di sekitar Ka'bah lupa akan penghinaan yang baru saja menimpa pemimpin mereka. Mereka begitu terpesona oleh kata-kata yang keluar dari mulut Hamzah yang menyatakan bahwa ia telah menganut dan menjadi pengikut Muhammad.

Tiba-tiba beberapa orang dari Bani Makhzum bangkit untuk melawan Hamzah dan menolong Abu Jahal. Tetapi Abu Jahal melarang dan mencegahnya seraya berkata,"Biarkanlah Abu Umarah melampiaskan amarahnya kepadaku. Karena tadi pagi, aku telah memaki dan mencerca keponakannya dengan kata-kata yang tidak pantas."

Hamzah bin Abdul Muthalib adalah seorang yang mempunyai otak yang cerdas dan pendirian yang kuat. Ia adalah paman Nabi dan saudara sepersusuannya. Dia memeluk Islam pada tahun kedua kenabian. Ia juga hijrah bersama Rasulullah SAW dan ikut dalam perang Badar. Pada Perang Uhud syahid dan Rasulullah menjulukinya dengan "Asadullah" (Singa Allah) dan menyebutnya "Sayidus Syuhada" (Penghulu atau Pemimpin Para Syuhada).


Ketika sampai di rumah, ia duduk terbaring sambil menghilangkan rasa lelahnya dan membawanya berpikir serta merenungkan peristiwa yang baru saja dialaminya.

Sementara itu, Abu Jahal yang telah mengetahui bahwa Hamzah telah berdiri dalam barisan kaum Muslimin berpendapat, perang antara kaum kafir Quraisy dengan kaum Muslimin sudah tidak dapat dielakkan lagi.

Oleh sebab itu, ia mulai menghasut dan memprovokasi orang-orang Quraisy untuk melakukan tindak kekerasan terhadap Rasulullah dan pengikutnya. Bagaimanapun Hamzah tidak dapat membendung kekerasan yang dilakukan kaum Quraisy terhadap para sahabat yang lemah. Akan tetapi harus diakui, bahwa keislamannya telah menjadi perisai dan benteng pelindung bagi kaum Muslimin lainnya.

Lebih dari itu menjadi daya tarik tersendiri bagi kabilah-kabilah Arab yang ada di sekitar Jazirah Arab untuk lebih mengetahui agama Islam lebih mendalam. Sejak memeluk islam, Hamzah telah berniat untuk membaktikan segala keperwiraan, keperkasaan, dan juga jiwa raganya untuk kepentingan dakwah Islam.

Pada Perang Badar, Rasulullah menunjuk Hamzah sebagai salah seorang komandan perang. Ia dan Ali bin Abi Thalib menunjukkan keberanian dan keperkasaannya yang luar biasa dalam mempertahankan kemuliaan agama Islam. Akhirnya, kaum Muslimin berhasil memenangkan perang tersebut secara gilang gemilang.

Kaum kafir Quraisy tidak mau menelan kekalahan begitu saja, maka mereka mulai mempersiapkan diri dan menghimpun segala kekuatan untuk menuntut balas. Akhirnya, tibalah saatnya Perang Uhud di mana kaum kafir Quraisy disertai beberapa kafilah Arab lainnya bersekutu untuk menghancurkan kaum Muslimin. Sasaran utama perang itu adalah Rasulullah dan Hamzah bin Abdul Muthalib.

Seorang budak bernama Washyi bin Harb diperintahkan oleh Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan bin Harb, untuk membunuh Hamzah. Wahsyi dijanjikan akan dimerdekakan dan mendapat imbalan yang besar pula jika berhasil menunaikan tugasnya.

Akhirnya, setelah terus-menerus mengintai Hamzah, Wahsyi melempar tombaknya dari belakang yang akhirnya mengenai pinggang bagian bawah Hamzah hingga tembus ke bagian muka di antara dua pahanya. Tak lama kemudian, Hamzah wafat sebai syahid.

Usai sudah peperangan, Rasulullah dan para sahabatnya bersama-sama memeriksa jasad dan tubuh para syuhada yang gugur. Sejenak beliau berhenti, menyaksikan dan membisu seraya air mata menetes di kedua belah pipinya. Tidak sedikitpun terlintas di benak beliau bahwa moral bangsa arab telah merosot sedemikian rupa, hingga dengan teganya berbuat keji dan kejam terhadap jasad Hamzah. Dengan keji mereka telah merusak jasad dan merobek dada Hamzah dan mengambil hatinya.

Kemudian Rasulullah mendekati jasad Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib, Singa Allah, Seraya berkata,"Tak pernah aku menderita sebagaimana yang kurasakan saat ini. Dan tidak ada suasana apa pun yang lebih menyakitkan diriku daripada suasana sekarang ini."

Setelah itu, Rasulullah dan kaum Muslimin menyalatkan jenazah Hamzah dan para syuhada lainnya satu per satu.

Ibnu Atsir dalam kitab Usud Al-Ghabah, mengatakan dalam Perang Uhud, Hamzah berhasil membunuh 31 orang kafir Quraisy. Sampai pada suatu saat ia tergelincir sehingga terjatuh kebelakang dan tersingkaplah baju besinya, dan pada saat itu ia langsung ditombak dan dirobek perutnya. Lalu hatinya dikeluarkan oleh Hindun kemudian dikunyahnya. Namun Hindun memuntahkannya kembali karena bisa menelannya.

Ketika Rasulullah melihat keadaan tubuh pamannya Hamzah bin Abdul Muthalib, Beliau sangat marah dan Allah menurunkan firmannya: "Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar." (QS An-Nahl: 126)

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq Sirah-nya, bahwa Ummayyah bin Khalaf bertanya pada
Abdurahman bin Auf, "Siapakah salah seorang pasukan kalian yang dadanya dihias dengan bulu bulu itu?"

"Dia adalah Hamzah bin Abdul Muthalib," jawab Abdurrahman bin Auf.

"Dialah yang membuat kekalahan kepada kami," ujar Khalaf.

Abdurahman bin Auf menyebutkan bahwa ketika perang Badar, Hamzah berperang disamping Rasulullah dengan memegang dua bilah pedang.

Diriwayatkan dari Jabir bahwa ketika Rasulullah SAW melihat Hamzah terbunuh, maka beliau menagis.

Sirah Ibnu Ishaq dan sumber lain & republika.co.id

Sahabat Nabi - Sa'ad bin Abi waqqash

Lelaki Penghuni Surga Diantara dua pilihan, Iman dan Kasih Sayang. Malam telah larut, ketika seorang pemuda bernama Sa’ad bin Abi Waqqash terbangun dari tidurnya. Baru saja ia bermimpi yang sangat mencemaskan. Ia merasa terbenam dalam kegelapan, kerongkongannya terasa sesak, nafasnya terengah-engah, keringatnya bercucuran, keadaan sekelilingnya gelap-gulita. Dalam keadaan yang demikian dahsyat itu, tiba-tiba dia melihat seberkas cahaya dari langit yang terang-benderang. Maka dalam sekejap, berubahlah dunia yang gelap-gulita menjadi terang benderang dengan cahaya tadi.

Cahaya itu menyinari seluruh rumah penjuru bumi. Bersaman dengan sinar yang cemerlang itu, Sa’ad bin Abi Waqqash melihat tiga orang lelaki, yang setelah diamati tidak lain adalah Ali bin Abi Thalib r.a., Abu Bakar bin Abi Quhafah dan Zaid bin Haritsh. Sejak ia bermimpi yang demikian itu, mata Sa'ad bin Abi Waqqash tidak mau terpejam lagi. Kini Sa’ad bin Abi Waqqash duduk merenung untuk memikirkan arti mimpi yang baginya sangat aneh. Sampai sinar matahari mulai meninggi, rahasia mimpi yang aneh tersebut masih belum terjawab. Hatinya kini bertanya-tanya, berita apakah gerangan yang hendak saya peroleh. Seperti biasa, di waktu pagi, Sa’ad dan ibunya selalu makan bersama-sama. Dalam menghadapi hidangan pagi ini, Sa’ad lebih banyak berdiam diri.

Sa’ad adalah seorang pemuda yang sangat patuh dan taat kepada ibunya. Namun, mimpi semalam dirahasiakannya, tidak diceritakan kepada ibu yang sangat dicintai dan dihormatinya. Sedemikian dalam sayangnya Sa’ad pada ibunya, sehingga seolah-olah cinta Sa’ad hanya untuk ibunya yang telah memelihara dirinya sejak kecil hingga dewasa dengan penuh kelembutan dan berbagai pengorbanan. Pekerjan Sa’ad adalah membuat tombak dan lembing yang diruncingkan untuk dijual kepada pemuda-pemuda Makkah yang senang berburu, meskipun ibunya terkadang melarangnya melakukan usaha ini. Ibu Sa’ad yang bernama Hamnah binti Suyan bin Abu Umayyah adalah seorang wanita hartawan keturunan bangsawan Quraisy, yang memiliki wajah cantik dan anggun. Disamping itu, Hamnah juga seorang wanita yang terkenal cerdik dan memiliki pandangan yang jauh. Hamnah sangat setia kepada agama nenek moyangnya, yaitu penyembah berhala. Pada suatu hari tabir mimpi Sa'ad mulai terbuka, ketika Abu Bakar mendatangi Sa'ad di tempat pekerjaannya dengan membawa berita dari langit tentang diutusnya Muhammad Saw, sebagai Rasul Allah. Ketika Sa’ad bertanya, siapakah orang-orang yang telah beriman kepada Muhammad Saw, dijawab oleh Abu Bakar : dirinya sendiri, Ali bin Abi Thalib r.a., dan Zaid bin Haritsh. Muhammad Saw, mengajak manusia menyembah Allah Yang Esa, Pencipta langit dan bumi. Seruan ini telah mengetuk pintu hati Sa’ad untuk menemui Rasul Allah Saw, untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.

Kalbu Sa'ad telah disinari cahaya iman, meskipun usianya waktu itu baru menginjak tujuh belas tahun. Sa’ad termasuk dalam deretan lelaki pertama yang memeluk Islam selain Ali bin Abi Thalib r.a., Abu Bakar r.a. dan Zaid bin Haritsh. Cahaya agama Allah yang memancar ke dalam kalbu Sa’ad, sudah demikian kuat, meskipun ia mengalami ujian yang tidak ringan dalam memeluk agama Allah ini. Diantara ujian yang dirasa paling berat adalah, karena ibunya yang paling dikasihi dan disayanginya itu tidak rela ketika mengetahui Sa’ad memeluk Islam. Sejak memeluk Islam, Sa'ad telah melaksanakan shalat dengan sembunyi-sembunyi di kamarnya. Sampai pada suatu saat, ketika ia sedang bersujud kepada Allah, secara tidak sengaja, ibu yang belum mendapat hidayah dari Allah ini melihatnya. Dengan nada sedikit marah, Hamnah bertanya : "Sa'ad, apakah yang sedang kau lakukan ?" Rupanya Sa’ad sedang berdialog dengan Tuhannya; ia tampak tenang dan khusyu' sekali.

Setelah selesai menunaikan Shalat, ia berbalik menghadap ibunya seraya berkata lembut. "Ibuku sayang, anakmu tadi bersujud kepada Allah Yang Esa, Pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Mendengar jawaban anaknya, sang ibu mulai naik darah dan berkata : "Rupanya engkau telah meninggalkan agama nenek moyang kita, Tuhan Lata, Manata dan Uzza. Ibu tidak rela wahai anakku. Tinggalkanlah agama itu dan kembalilah kepada agama nenek moyang kita yang telah sekian lama kita anut". "Wahai ibu, aku tidak dapat lagi menyekutukan Allah, Dia-lah Dzat Yang Tunggal, tiada yang setara dengan Dia, dan Muhammad adalah utusan Allah untuk seluruh umat manusia," jawab Sa'ad. Kemarahan ibunya semakin menjadi-jadi, karena Sa’ad tetap bersikeras dengan keyakinannya yang baru ini. Oleh karena itu, Hamnah berjanji tak akan makan dan minum sampai Sa’ad kembali taat memeluk agamanya semula. Sehari telah berlalu, ibu ini tetap tidak mau makan dan minum. Hati Sa’ad merintih melihat ibunya, tetapi keyakinanya terlalu mahal untuk dikorbankan. Sa'ad datang membujuk ibunya dengan mengajaknya makan dan minum bersama, tapi ibunya menolak dengan harapan agar Sa’ad kembali kepada agama nenek moyangnya. Kini Sa’ad makan sendirian tanpa ditemani ibunya. Hari keduapun telah berlalu, ibunya tampak letih, wajahnya pucat-pasi dan matanya cekung, ia kelihatan lemah sekali. Tidak ada sedikitpun makanan dan minuman yang dijamahnya. Sa’ad sebagai seorang anak yang mencintai ibunya bertambah sedih dan terharu sekali melihat keadaan Hamnah yang demikian.

Malam berikutnya, Sa’ad kembali membujuk ibunya,agar mau makan dan minum. Namun ibunya adalah seorang wanita yang berpendirian keras, ia tetap menolak ajakan Sa’ad untuk makan, bahkan ia kembali merayu Sa’ad agar menuruti perintahnya semula. Tetapi Sa’ad tetap pada pendiriannya, ia tak hendak menjual agama dan keimanannya kepada Allah dengan sesuatupun, sekalipun dengan nyawa ibu yang dicintainya. Imannya telah membara, cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya telah sedemikian dalam. Di depan matanya ia menyaksikan keadaan ibunya yang meluluhkan hatinya, namun dari lidahnya keluar kata-kata pasti yang membingungkan lbunya; Demi Allah, ketahuilah wahai ibunda sayang, seandainya ibunda memiliki seratus nyawa lalu ia keluar satu persatu, tidaklah nanda akan meninggalkan agama ini walau ditebus dengan apa pun juga. Maka sekarang, terserah kepada ibunda, apakah ibunda akan makan atau tidak".

Kata kepastian yang diucapkan anaknya dengan tegas membuat ibu Sa’ad bin Abi Waqqash tertegun sesaat. Akhirnya ia mulai mengerti dan sadar, bahwa anaknya telah memegang teguh keyakinannya. Untuk menghormati ibunya, Sa’ad kembali mengajaknya untuk makan dengannya, karena ibu ini telah merasakan kelaparan yang amat sangat dan ia telah memaklumi pula bahwa anak yang dicintainya tidak akan mundur setapakpun dari agama yang dianutnya, maka ibu Sa’ad mundur dari pendiriannya dan memenuhi ajakan anaknya untuk makan bersama. Alangkah gembiranya hati Sa’ad bin Abi Waqqash. Ujian iman ternyata dapat diatasinya dengan ketabahan dan memohon pertolongan Allah. Keesokan paginya, Sa’ad pergi menuju ke rumah Nabi Saw. Sewaktu ia berada di tengah majlis Nabi Saw, turunlah firman Allah yang menyokong pendirian Sa’ad bin Abi Wadqash: “Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu-bapakmu; hanya kepada-Ku-lah tempat kamu kembali. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu turuti keduanya, dan bergaullah dengan keduanya didunia dengan baik dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah tempat kembalimu. Maka Kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (Q.S. Luqman: 14-15) Demikianlah, keimanan Sa’ad bin Abi Waqqash kepada Allah dan Rasul-Nya telah mendapat keridhaan Ilahi. Al-Qur’an telah mengabadikan peristiwa itu menjadi pedoman buat kaum Muslimin. Terkadang Sa’ad mencucurkan air matanya apabila ia sedang berada di dekat Nabi Saw.

Ia adalah seorang sahabat Rasul Allah Saw, yang diterima amal ibadahnya dan diberi nikmat dengan doa Rasul Allah Saw, agar doanya kepada Allah dikabulkan. Apabila Sa'ad bermohon diberi kemenangan oleh Allah pastilah Allah akan mengabulkan doanya. Pada suatu hari, ketika Rasul Allah Saw, sedang duduk bersama para sahabat, tiba-tiba beliau menatap ke langit seolah mendengar bisikan malaikat. Kemudian Rasul kembali menatap kepada sahabatnya dengan berkata : "Sekarang akan ada di hadapan kalian seorang laki-laki dari penduduk surga". Mendengar ucapan Rasul Allah Saw, para sahabat menengok ke kanan dan ke kiri pada setiap arah, untuk melihat siapakah gerangan lelaki berbahagia yang menjadi penduduk surga. Tidak lama berselang datanglah laki-laki yang ditunggu itu, dialah Sa’ad bin Abi Waqqash. Disamping terkenal sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, Sa’ad bin Abi Waqash juga terkenal karena keberaniannya dalam peperangan membela agama Allah. Ada dua hal penting yang dikenal orang tentang kesatriaannya. Pertama, Sa’ad adalah orang yang pertama melepaskan anak panah dalam membela agama Allah dan juga orang yang mula-mula terkena anak panah. Dan yang kedua, Sa’ad adalah satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasul Saw dengan jaminan kedua orang tua Nabi Saw. Bersabda Nabi Saw, dalam perang Uhud :”Panahlah hai Sa’ad ! Ayah-Ibuku menjadi jaminan bagimu”. Sa’ad bin Abi Waqqash, hampir selalu menyertai Nabi Saw dalam setiap pertempuran.

Sejarah mencatat, hari-hari terakhir Panglima Sa’ad bin Abi Waqqash ialah ketika ia memasuki usia delapan puluh tahun. Dalam keadaan sakit Sa’ad bin Abi Waqqash berpesan kepada para sahabatnya, agar ia dikafani dengan Jubah yang digunakannya dalam perang Badr, sebagai perang kemenangan pertama untuk kaum muslimin. Pahlawan perkasa ini telah menghembuskan nafas yang terakhir dengan meningalkan kenangan indah dan nama yang harum. Ia dimakamkan di pemakaman Baqi’, makamnya para Syuhada.


Thursday, August 2, 2012

Sahabat Nabi - Bilal bin Rabah

Bentuk dan rupa fisiknya berbeda dengan kebanyakan orang Arab. Ia digambarkan bertubuh kurus, berpostur ramping dan berkulit hitam. Namun dalam Islam, masalah fisik ini tidaklah berharga dan tidak diperhitungkan.

Ia dibawa ke Makkah dalam keadaan terasing dari ibu dan keluarganya, dan hidup di sana sebagai hamba sahaya yang hina.

Dia adalah budak yang lemah lagi miskin, namun diangkat derajatnya oleh agama ini sehingga menjadi pewaris jannah. Bilal bin Rabah adalah nama yang dicintai orang-orang beriman. Dan suaranya dirindukan oleh telinga mereka yang mengesakan Allah.

Syekh A’id Abdullah al-Qarni dalam Al-Misk wa al-‘Anbar fi Khathab al-Mimbar menulis, ketika Muhammad saw mengumandangkan kebenaran di atas bukit Shafa, “Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Dan mendatangi para pembesar Makkah untuk mengajak mereka pada kebenaran, namun didustai dan dicaci-maki, Rasulullah pun mencari orang-orang lemah. Dan beliau menemukan mereka, salah satunya adalah Bilal.

Ketika Bilal melihat Muhammad saw, maka ia pun mencintai beliau. Bilal mencintai Muhammad saw dengan cinta yang menulikan pendengarannya dan membutakan matanya. Sehingga ia bergerak selalu disertai dengan cinta kepada Rasul. Seolah-olah ia berkata, “Aku mencintai jangan tanya mengapa? Sebab sesungguhnya aku mencintaimu. Cinta ini adalah jalan hidupku.”

Tatkala Bilal masuk Islam, para pemaksa itu mendatanginya. Mereka menyiksanya dengan pedih supaya ia meninggalkan kalimat tauhid. Namun Bilal teguh pendirian, enggan kembali pada kekufuran. Kata-kata “Ahad, Ahad” terus terucap dari bibirnya yang gemetar. Hingga ia dimerdekakan oleh Abu Bakar.

Bilal kemudian menghadap Rasulullah dalam kondisi yang mengenaskan. Beliau menerima dan mendidiknya, sebagaimana seorang ibu mendidik anak-anaknya. Rasulullah mendoakan dan menjadikannya muazin pertama dalam sejarah Islam.

Menjelang Zuhur usai Fathu Makkah, Rasulullah meminta Bilal naik ke atas Ka’bah untuk mengajak orang-orang shalat. Ketika ia mengumandangkan azan, semua orang menangis, termasuk Rasulullah. Air mata beliau mengalir deras membasahi pipi.

Suara Bilal menggema di perbukitan dan lembah-lembah kota Makkah, dengan kalimat yang mengguncang dunia; “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah...”

http://sabili.co.id/tafakur/bilal

Sahabat Nabi - Ammar bin Yasir, Calon Penghuni Surga

Yasir bin Amir, ayahanda Ammar, berangkat meninggalkan negerinya di Yaman guna mencari dan menemui salah seorang saudaranya. Rupanya ia berkenan dan merasa betah tinggal di Makkah. Bermukimlah ia di sana dan mengikat perjanjian persahabatan dengan Abu Hudzaifah ibnul Mughirah.

Abu Hudzaifah mengawinkannya dengan salah seorang sahayanya bernama Sumayyah binti Khayyath, dan dari perkawinan ini, kedua suami istri itu dikaruniai seorang putra bernama Ammar.

Keislaman mereka termasuk dalam golongan Assabiqunal Awwalun (generasi pertama). Dan sebagaimana halnya orang-orang saleh yang termasuk dalam golongan yang pertama masuk Islam, mereka cukup menderita karena siksa dan kekejaman Quraisy.

Orang-orang Quraisy menjalankan siasat terhadap Kaum Muslimin sesuai situasi dan kondisi. Seandainya mereka ini golongan bangsawan dan berpengaruh, mereka hadapi dengan ancaman dan gertakan. Dan setelah itu mereka lancarkan kepadanya perang urat syaraf yang amat sengit.

Dan sekiranya yang beriman itu dari kalangan penduduk Makkah yang rendah martabatnya dan yang miskin, atau dari golongan budak belian, maka mereka didera dan disulutnya dengan api bernyala.

Maka keluarga Yasir termasuk dalam golongan yang kedua ini. Dan soal penyiksaan mereka, diserahkan kepada Bani Makhzum. Setiap hari Yasir, Sumayyah dan Ammar dibawa ke padang pasir Makkah yang demikian panas, lalu didera dengan berbagai azab dan siksa.

Penderitaan dan pengalaman Sumayyah dari siksaan ini amat ngeri dan menakutkan, namun Sumayyah telah menunjukkan sikap dan pendirian tangguh, yang dari awal hingga akhirnya telah membuktikan kepada kemanusiaan suatu kemuliaan yang tak pernah hapus dan kehormatan yang pamornya tak pernah luntur.

Rasulullah SAW selalu mengunjungi tempat-tempat yang diketahuinya sebagai arena penyiksaan bagi keluarga Yasir. Ketika itu tidak suatu apa pun yang dimilikinya untuk menolak bahaya dan mempertahankan diri.

Pengorbanan-pengorbanan mulia yang dahsyat ini tak ubahnya dengan tumbal yang akan menjamin bagi Agama dan akidah keteguhan yang takkan lapuk. Ia juga menjadi contoh teladan yang akan mengisi hati orang-orang beriman dengan rasa simpati, kebanggaan dan kasih sayang. Ia adalah menara yang akan menjadi pedoman bagi generasi-generasi mendatang untuk mencapai hakikat agama, kebenaran dan kebesarannya.

Demikianlah, berlaku pula bagi agama Islam. Makna ini telah dijelaskan oleh Al-Qur'an kepada Kaum Muslimin bukan hanya pada satu atau dua ayat.

Firman Allah SWT: "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman” padahal mereka belum lagi diuji?" (QS Al-Ankabut: 2)

"Apakah kalian mengira akan dapat masuk surga, padahal belum lagi terbukti bagi Allah orang-orang yang berjuang di antara kalian, begitu pun orang-orang yang tabah?" (QS Ali Imran: 142)

"Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, hingga terbuktilah bagi Allah orang-orang yang benar dan terbukti pula orang-orang yang dusta." (QS Al-Ankabut: 3)

Memang demikianlah Al-Qur’an mendidik putra dan para pendukungnya, bahwa pengorbanan merupakan esensi atau saripati keimanan. Dan bahwa kepahlawanan menghadapi kekejaman dan kekerasan dihadapi dengan kesabaran, keteguhan dan pantang mundur. Maka Sumayyah, Yasir, dan Ammar adalah golongan luar biasa yang beroleh berkah ini.

Pada suatu hari, ketika Rasulullah SAW mengunjungi mereka, Ammar berkata, "Wahai Rasulullah, azab yang kami derita telah sampai ke puncak."

Rasulullah SAW berkata, "Sabarlah, wahai Abal Yaqdhan... Sabarlah wahai keluarga Yasir, tempat yang dijanjikan bagi kalian ialah surga!"

Siksaan yang diami oleh Ammar dilukiskan oleh kawan-kawannya dalam beberapa riwayat. Berkata Amar bin Hakam, "Ammar itu disiksa sampai-sampai ia tak menyadari apa yang diucapkannya.”

Ammar bin Maimun melukiskan, "Orang-rang musyrik membakar Ammar bin Yasir dengan api. Maka Rasulullah SAW lewat di tempatnya, memegang kepalanya dengan tangan beliau, sambil bersabda, 'Hai api, jadilah kamu sejuk dingin di tubuh Ammar, sebagaimana dulu kamu juga sejuk dingin di tubuh Ibrahim!”

Bagaimanapun juga, semua bencana itu tidaklah dapat menekan jiwa Ammar, walau telah menekan punggung dan menguras tenaganya. Ia baru merasa dirinya benar-benar celaka, ketika pada suatu hari tukang-tukang cambuk dan para penderanya menghabiskan segala daya upaya dalam melampiaskan kezaliman dan kekejiannya. Semenjak hukuman bakar dengan besi panas, sampai disalib di atas pasir panas dengan ditindih batu laksana bara merah, bahkan sampai ditenggelamkan ke dalam air hingga sesak nafasnya dan mengelupas kulitnya yang penuh dengan luka.

Pada hari itu, ketika ia telah tak sadarkan diri lagi karena siksaan yang demikian berat, orang-orang itu berkata kepadanya, “Pujalah olehmu tuhan-tuhan kami!”

Ammar pun mengikuti perintah mereka tanpa menyadari apa yang keluar dari bibirnya. Ketika siuman sebentar akibat dihentikannya siksaan, tiba-tiba ia sadar akan apa yang telah diucapkannya, maka hilanglah akalnya dan terbayanglah di matanya betapa besar kesalahan yang telah dilakukannya, suatu dosa besar yang tak dapat ditebus dan diampuni lagi.

Ketika Rasulullah SAW menemui sahabatnya itu didapatinya ia sedang menangis, maka disapunyalah tangisnya itu dengan tangan beliau seraya berkata, "Orang-orang kafir itu telah menyiksamu dan menenggelamkanmu ke dalam air sampai kamu mengucapkan begini dan begitu?”

“Benar, wahai RasuIullah," ujar Ammar.

Rasulullah tersenyum berkata, “Jika mereka memaksaimu lagi, tidak apa, ucapkanlah seperti apa yang kamu katakan tadi!”

Lalu dibacakan Rasulullah kepadanya ayat mulia berikut ini: "Kecuali orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan..." (QS An-Nahl: 106)

Kembalilah Ammar diliputi oleh ketenangan dan dera yang menimpa tubuhnya. Ia tak lagi merasakan sakit. Jiwanya tenang. Ia menghadapi cobaan dan siksaan itu dengan ketabahan luar biasa, hingga pendera-penderanya merasa lelah dan menjadi lemah, bertekuk lutut di hadapan tembok keimanan yang begitu kokoh.

Setelah Rasulullah SAW ke Madinah, kaum Muslimin tinggal bersama beliau bermukim di sana, secepatnya masyarakat Islam terbentuk dan menyempurnakan barisannya. Maka di tengah-tengah masyarakat Islam yang beriman ini, Ammar pun mendapatkan kedudukan yang tinggi. Rasulullah amat sayang kepadanya, dan beliau sering membanggakan keimanan dan ketakwaan Ammar kepada para shahabat.

Rasulullah bersabda, "Diri Ammar dipenuhi keimanan sampai ke tulang punggungnya!”

Dan sewaktu terjadi selisih paham antara Khalid bin Walid dengan Ammar, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang memusuhi Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah. Dan siapa yang membenci Ammar, maka ia akan dibenci Allah!"

Maka tak ada pilihan bagi Khalid bin Walid, pahlawan Islam itu, selain segera mendatangi Ammar untuk mengakui kekhilafannya dan meminta maaf.

Jika Rasulullah SAW telah menyatakan kesayangannya terhadap seorang Muslim demikian rupa, pastilah keimanan orang itu, kecintaan dan jasanya terhadap Islam, kebesaran jiwa dan ketulusan hati serta keluhuran budinya telah mencapai batas dan puncak kesempurnaan.

Demikian halnya Ammar, berkat nikmat dan petunjuk-Nya, Allah telah memberikan kepada Ammar ganjaran setimpal, dan menilai takaran kebaikannya secara penuh. Hingga disebabkan tingkatan petunjuk dan keyakinan yang telah dicapainya, maka Rasulullah menyatakan kesucian imannya dan mengangkat dirinya sebagai contoh teladan bagi para sahabat.

Beliau bersabda, “Contoh dan ikutilah setelah kematianku nanti, Abu Bakar dan Umar. Dan ambillah pula hidayah yang dipakai Ammar untuk jadi bimbingan!”

Ketika Rasulullah dan kaum Muslimin membangun masjid di Madinah, beliau turut serta mengangkat batu dan melakukan pekerjaan yang paling sukar. Di tengah-tengah khalayak ramai yang sedang hilir mudik itu, terlihatlah Ammar bin Yasir sedang mengangkat batu besar.

Rasulullah juga melihat Ammar, dan langsung mendekatinya. Setelah berhampiran, maka beliau mengipaskan debu yang menutupi kepala Ammar dengan tangannya. kemudian bersabda di hadapan semua shahabatnya, "Malangnya Ibnu Sumayyah, ia dibunuh oleh golongan pendurhaka!"

Kata-kata itu diulangi oleh Rasulullah sekali lagi... kebetulan bertepatan dengan ambruknya dinding di atas tempat Ammar bekerja, hingga sebagian kawannya menyangka bahwa ia tewas yang menyebabkan Rasulullah meratapi kematiannya itu.

Para sahabat terkejut dan menjadi ribut karenanya, tetapi dengan nada menenangkan dan penuh kepastian, Rasulullah menjelaskan, "Tidak, Ammar tidak apa-apa. Hanya nanti ia akan dibunuh oleh golongan pendurhaka!"

Ammar mendengarkan ramalan itu dan meyakini kebenaran pandangan yang disingkapkan oleh Rasulullah. Tetapi ia tidak merasa gentar, karena semenjak menganut Islam ia telah dicalonkan untuk menghadapi maut dan mati syahid di setiap detik, baik siang maupun malam.

Ammar selalu terjun bersama Rasulullah dalam tiap perjuangan dan peperangan bersenjata, baik di Badar, Uhud, Khandaq, dan Tabuk. Dan tatkala Rasulullah telah wafat, perjuangan Ammar tidaklah berhenti. Ia terus berjuang dan berjihad menegakkan agama Allah.

Ketika terjadi pertentangan antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, Ammar berdiri di samping menantu Rasulullah tersebut. Bukan karena fanatik atau berpihak, tetapi karena tunduk kepada kebenaran dan teguh memegang janji! Ali adalah khalifah kaum Muslimin, dan berhak menerima baiat sebagai pemimpin umat.

Ketika meletus Perang Shiffin yang mengerikan itu, Ammar ikut bersamanya. Padahal saat itu usianya telah mencapai 93 tahun. Orang-orang dari pihak Muawiyah mencoba sekuat daya untuk menghindari Ammar, agar pedang mereka tidak menyebabkan kematiannya hingga menjadi manusia “golongan pendurhaka”.

Tetapi keperwiraan Ammar yang berjuang seolah-olah ia satu pasukan tentara juga, menghilangkan pertimbangan dan akal sehat mereka. Maka sebagian dari anak buah Muawiyah mengintai-ngintai kesempatan untuk menewaskannya. Hingga setelah kesempatan itu terbuka, mereka pun membunuh Ammar.

Maka sekarang tahulah orang-orang siapa kiranya golongan pendurhaka itu, yaitu golongan yang membunuh Ammar, yang tidak lain dari pihak Muawiyah!

Jasad Ammar bin Yassir kemudian dipangku Khalifah Ali, dibawa sebuah ke tempat untuk dishalatkan bersama kaum Muslimin, lalu dimakamkan dengan pakaiannya.

Setelah itu, para sahabat kemudian berkumpul dan saling berbincang. Salah seorang berkata, “Apakah kau masih ingat waktu sore hari itu di Madinah, ketika kita sedang duduk-duduk bersama Rasulullah SAW dan tiba-tiba wajahnya berseri-seri lalu bersabda, "Surga telah merindukan Ammar?"

"Benar," jawab yang lain.

“Dan waktu itu juga disebutnya nama-nama lain, di antaranya Ali, Salman dan Bilal..." timpal seorang lagi.

Bila demikian halnya, maka surga benar-benar telah merindukan Ammar. Dan jika demikian, maka telah lama surga merindukannya, sedang kerinduannya tertangguhkan, menunggu Ammar menyelesaikan kewajiban dan memenuhi tanggungjawabnya. Dan tugas itu telah dilaksanakannya dan dipenuhinya dengan hati gembira.


Sumber: 101 Sahabat Nabi karya Hepi Andi Bastoni