Saturday, August 11, 2012

Sahabat Nabi - Hudzaifah Ibnul Yaman, Pemegang Rahasia Rasulullah

Pada puncak Perang Khandaq, Rasulullah memerintahkan Hudzaifah melaksanakan suatu tugas yang amat berbahaya. Beliau mengutus Hudzaifah ke jantung pertahanan musuh, dalam kegelapan malam yang hitam pekat.

"Ada beberapa peristiwa yang dialami musuh. Pergilah engkau ke sana dengan sembunyi-sembunyi untuk mendapatkan data-data yang pasti. Dan laporkan kepadaku segera!" perintah beliau.

Hudzaifah pun bangun dan berangkat dengan ketakutan dan menahan dingin yang sangat menusuk.

Tatkala ia memalingkan diri dari Rasulullah, beliau memanggilnya dan berkata, "Hai Hudzaifah, sekali-kali jangan melakukan tindakan yang mencurigakan mereka sampai tugasmu selesai, dan kembali kepadaku!"

"Saya siap, ya Rasulullah," jawab Hudzaifah.

Hudzaifah pun pergi dengan sembunyi-sembunyi dan hati-hati sekali, dalam kegelapan malam yang hitam kelam. Ia berhasil menyusup ke jantung pertahanan musuh dengan berlagak seolah-olah anggota pasukan mereka. Belum lama berada di tengah-tengah mereka, tiba-tiba terdengar Abu Sufyan memberi komando.

"Hai, pasukan Quraisy, dengarkan aku berbicara kepada kamu sekalian. Aku sangat khawatir, hendaknya pembicaraanku ini jangan sampai terdengar oleh Muhammad. Karena itu, telitilah lebih dahulu setiap orang yang berada di samping kalian masing-masing!"

Mendengar ucapan Abu Sufyan, Hudzaifah segera memegang tangan orang yang di sampingnya seraya bertanya, "Siapa kamu?"

Jawabnya, "Aku si Fulan, anak si Fulan."

Sesudah dirasanya aman, Abu Sufyan melanjutkan bicaranya, "Hai, pasukan Quraisy. Demi Tuhan, sesungguhnya kita tidak dapat bertahan di sini lebih lama lagi. Hewan-hewan kendaraan kita telah banyak yang mati. Bani Quraizhah berkhianat meninggalkan kita. Angin topan menyerang kita dengan ganas seperti kalian rasakan. Karena itu, berangkatlah kalian sekarang dan tinggalkan tempat ini. Sesungguhnya aku sendiri akan berangkat."

Selesai berkata demikian, Abu Sufyan kemudian mendekati untanya, melepaskan tali penambat, lalu dinaiki dan dipukulnya. Unta itu bangun dan Abu Sufyan langsung berangkat. Seandainya Rasulullah tidak melarangnya melakukan suatu tindakan di luar perintah sebelum datang melapor kepada beliau, tentu ia akan membunuh Abu Sufyan dengan pedangnya.

Hudzaifah Ibnul Yaman sangat cermat dan teguh memegang segala rahasia mengenai orang-orang munafik selama hidupnya, sampai kepada seorang khalifah sekali pun. Bahkan Khalifah Umar bin Khathtab, jika ada orang Muslim yang meninggal, dia bertanya, "Apakah Hudzaifah turut menyalatkan jenazah orang itu?" Jika mereka menjawab, "Ada," Umar turut menyalatkannya.

Suatu ketika, Khalifah Umar pernah bertanya kepada Hudzaifah dengan cerdik, "Adakah di antara pegawai-pegawaiku orang munafik?"

"Ada seorang," jawab Hudzaifah.

"Tolong tunjukkan kepadaku siapa?" kata Umar.

Hudzaifah menjawab, "Maaf Khalifah, saya dilarang Rasulullah mengatakannya."

Walau demikian, amat sedikit orang yang mengetahui bahwa Hudzaifah Ibnul Yaman sesungguhnya adalah pahlawan penakluk Nahawand, Dainawar, Hamadzan, dan Rai. Dia membebaskan kota-kota tersebut bagi kaum Muslimin dari genggaman kekuasaan Persia. Hudzaifah juga termasuk tokoh yang memprakarsai keseragaman mushaf Alquran, sesudah kitabullah itu beraneka ragam coraknya di tangan kaum Muslimin.

Ketika Hudzaifah sakit keras menjelang ajalnya tiba, beberapa orang sahabat datang mengunjunginya pada tengah malam. Hudzaifah bertanya kepada mereka,"Pukul berapa sekarang?"

Mereka menjawab, "Sudah dekat Subuh."

Hudzaifah berkata, "Aku berlindung kepada Allah dari Subuh yang menyebabkan aku masuk neraka."

Ia bertanya kembali, "Adakah kalian membawa kafan?"

Mereka menjawab, "Ada."

Hudzaifah berkata, "Tidak perlu kafan yang mahal. Jika diriku baik dalam penilaian Allah, Dia akan menggantinya untukku dengan kafan yang lebih baik. Dan jika aku tidak baik dalam pandangan Allah, Dia akan menanggalkan kafan itu dari tubuhku."

Sesudah itu dia berdoa kepada Allah, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu, aku lebih suka fakir daripada kaya, aku lebih suka sederhana daripada mewah, aku lebih suka mati daripada hidup."

Sesudah berdoa demikian, ruhnya pun pergi menghadap Ilahi. Seorang kekasih Allah kembali kepada Allah dalam kerinduan. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya.

Artikel - Meneladani Kesederhanaan Abu Dzar Al-Ghifari

Abu Dzar datang tergopoh-gopoh ke Makkah. Ia mencari Rasulullah. Abu Dzar sudah berjalan dari negeri bernama Ghifar menuju Makkah. Ghifar adalah suatu tempat yang sangat jauh dari Makkah. Tak ada yang bisa menandingi jauh nya Ghifar.

“Kamu dari mana?” tanya Rasul ketika Abu Dzar menemuinya. Abu Dzar ingin menemui Rasul hanya ingin menyatakan keislamannya. “Saya dari Ghifar,” kata Abu Dzar.

Rasulullah takjub sekali dengan Abu Dzar. Agama Islam yang dibawanya sampai hingga negeri Ghifar yang sangat jauh. Abu Dzar menyatakan memeluk Islam. Ia merupakan orang-orang yang memeluk Islam pertama ka li. Ketika itu, Nabi berdakwah dengan sembu nyi-sembunyi. Tapi, tak ada kata sembunyi dalam kamusnya.

Ia langsung menyatakan keislamannya. Ia pergi ke Masjidil Haram dan berteriak menyatakan keislamannya. “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah,” teriak Abu Dzar.

Teriakan itu menentang kesombongan kaum kafir Quraisy. Akibatnya, Abu Dzar disiksa. Orang-orang memukulinya. Berita dipukulinya Abu Dzar akhirnya sampai ke telinga paman nabi. “Anda semua pedagang. Ia Bani Ghifar. Apakah kamu tidak takut orang-orang Ghifar akan merampok kamu nanti?”

Orang-orang berhenti memukuli Abu Dzar. Abu Dzar lalu kembali ke Ghifar. Kepada penduduk Ghifar ia menceritakan tentang Nabi Muhammad. Penduduk Ghifar banyak yang memeluk Islam.

Abu Dzar memeluk Islam dengan taat. Ia berdakwah menemui pusat-pusat kekuasaan. Ia berdakwah agar para pembesar bersikap dermawan dan tidak menumpuk kekayaan. Ia mengajarkan hidup sederhana dan tidak boros. Ia menyerukan agar tidak berlaku curang dalam mengumpulkan harta.

Nama Abu Dzar terkenal. “Beritakan kepada penumpuk harta, mereka akan disetrika dengan setrika api neraka,” kata Abu Dzar. Kalimat itu menjadi dakwah khas Abu Dzar.

Abu Dzar tetap hidup dengan kesederhanaannya. Ia masih memakai baju usang. Abu Dzar selalu bersyukur dengan semua pemberian Allah. Ia sangat sederhana dan tidak cinta dunia.

Sumber: disarikan dari karya Khalid Muh Khalid dalam buku Karakteristik Peri Hidup Sahabat Rasulullah.

Artikel - Dapatkan yang halal dan berkah

SYU’AIB bin Harb – seorang atba’ tabi’in yunior – berkata, “Jangan menyepelekan uang receh (fulus) yang engkau dapatkan melalui suatu cara di mana engkau menaati Allah Subhanahu Wata'ala di dalamnya. Bukan uang receh itu yang akan digiring (menuju Allah), akan tetapi ketaatanmu. Bisa jadi dengan uang receh itu engkau membeli sayur-mayur, dan tidaklah ia berdiam di dalam rongga tubuhmu hingga akhirnya dosa-dosamu diampuni.” (Dari: al-Hatstsu ‘ala at-Tijarah wa ash-Shina’ah, karya Abu Bakr al-Khallal).

Demikianlah, sebuah perkerjaan tidaklah dinilai dari besar kecilnya gaji yang diperoleh, akan tetapi dari cara kita melakukannya. Pertanyaan mendasar yang harus dicamkan adalah, “Apakah Allah ridha dengan pekerjaanku ini?”

Inilah cara berpikir seorang Muslim, sebagaimana diajarkan Nabinya; bukan menuruti logika materialis-atheis yang hanya mengedepankan pragmatisme. Cara berpikir pragmatis tak bertuhan inilah yang membuat sebagian orang dengan berani menyebut perzinaan sebagai “pekerjaan”, seolah-olah hendak menyamakannya dengan guru, petani, pedagang, advokat atau birokrat. Bukankah sebagian besar kita telah terbiasa melafalkan PSK (Pekerja Seks Komersial), dan bukannya pelacur atau pezina? Astaghfirullah.

Bekerja mendapatkan rezeki yang halal adalah kebajikan, apapun bentuk dan derajatnya di mata manusia. Bahkan, Rasulullah menjadikannya sebagai salah satu kewajiban bagi umatnya. Beliau bersabda, “Mencari yang halal adalah kewajiban setiap Muslim.” (Riwayat Thabrani dalam al-Awsath, dari Anas bin Malik. Menurut al-Haitsami: isnad-nya hasan).

Itu artinya, pekerjaan yang halal bisa bermakna ibadah. Setiap tetes keringat akan dihargai dengan pahala berlipat ganda. Apapun yang dihasilkannya menjadi berkah, dan semakin menguatkan tali perhubungan dengan Sang Pencipta. Rasulullah bersabda, “Sungguh, tidaklah engkau memberikan nafkah yang dengan itu engkau mengharapkan wajah Allah, melainkan engkau pasti diberi pahala, bahkan terhadap (sesuap makanan) yang engkau suapkan ke mulut istrimu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Sa’ad bin Abi Waqqash).

Pekerjaan kasar yang mengandalkan otot sama mulianya dengan pekerjaan intelektual, asalkan halal. Dan, tentu saja bekerja jauh lebih baik dibanding mengemis, bagaimana pun caranya.

Anas bin Malik bercerita, bahwa seseorang dari kaum Anshar datang kepada Nabi untuk meminta-minta. Beliau pun bertanya, "Tidak adakah sesuatu apa pun di rumahmu?" Ia menjawab, “Ya, ada. Kain alas pelana yang sebagian kami buat pakaian dan sebagian lagi kami hamparkan (untuk tikar), serta gelas besar yang kami gunakan untuk minum.” Beliau bersabda, "Bawalah keduanya kepadaku." Ia kemudian membawanya. Beliau mengambilnya dengan tangan beliau dan berkata, "Siapa yang mau membeli kedua barang ini?" Seorang laki-laki berkata, “Saya membelinya dengan satu dirham.” Beliau berkata, "Siapa yang menambah lebih dari satu dirham?" Beliau mengatakannya dua atau tiga kali. Seorang laki-laki berkata, “Saya membelinya dengan dua dirham.” Kemudian beliau memberikannya kepada orang tersebut, dan mengambil uang dua dirham. Beliau memberikan uangnya kepada orang Anshar itu dan bersabda, "Belilah makanan dengan satu dirham kemudian berikan kepada keluargamu, dan belilah (mata) kapak lalu bawalah kepadaku." Orang itu membawa (mata) kapaknya kepada Nabi, lalu mengikatkan sebatang kayu padanya dengan tangan beliau sendiri. Beliau bersabda, "Pergilah, kemudian carilah kayu dan juallah. Jangan sampai aku melihatmu selama lima belas hari." Orang itu pun pergi mencari kayu serta menjualnya, lalu datang lagi dan telah memperoleh uang sepuluh dirham. Sebagian ia belikan pakaian, sebagian lagi makanan. Kemudian Rasulullah bersabda, "Ini lebih baik bagimu daripada sikap meminta-minta itu kelak berubah menjadi noktah di wajahmu pada Hari Kiamat. Sungguh, meminta-minta itu tidak layak kecuali bagi tiga (jenis) orang, yaitu: orang fakir yang sangat melarat, atau orang yang terbebani hutang sangat berat, atau orang yang menanggung diyat (biaya tebusan atas pembunuhan) sementara ia tidak mampu membayarnya." (Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah. Sanad-nya dha’if).

Sebaliknya, pekerjaan yang terkesan mentereng dan bergaji besar, sangat boleh jadi hanya akan menjadi beban dosa dan kehinaan jika tidak diridhai Allah. Dari waktu ke waktu hanya akan memicu kegersangan, kekacauan, dan berakhir sebagai siksa tak terperikan. Semakin digeluti semakin menggelisahkan, sebab dosa-dosanya semakin menumpuk. Dalam Tafsir Zaadul Masir dikatakan bahwa pekerjaan yang haram adalah bagian dari siksa Allah, yaitu “kehidupan yang sempit” sebagai akibat dari kelalaian, keberpalingan dan meninggalkan tuntunan Allah. Sebagaimana firman-Nya

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيراً
قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya bisa melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan." (QS. Thaha: 124-126).

Dengan kata lain, menurut Islam, kehidupan yang lapang – pertama-tama – bukan diukur dari lapangnya materi, namun dari aspek keselarasan kehidupan itu dengan tuntunan Allah. Baru setelahnya, aspek-aspek lain mengikuti. Entah melarat atau kaya-raya, jika kehidupan seseorang tidak sejalan syari’at, maka layak disebut sebagai “kehidupan yang sempit”.

Sama juga, apakah fakir atau serba berkecukupan, kehidupan yang mengikuti aturan Allah adalah “kehidupan yang lapang” itulah yang namanya berkah.

rep. Halali Sahri

Artikel - Jadilan Muslim yang Berpendirian!

MUHAMMAD Qutub dalam salah karya spektakulernya “Manhajut Tarbiyah Al-Islamiyyah Nadhariyyah wa Tathbiqan” mengatakan, ada tiga komponen yang amat menentukan keberhasilan sebuah pendidikan. Yaitu masukan (input), proses dan keluaran (out-put). Jika salah satu unsur dari ketiganya kurang ideal, maka mustahil melahirkan keluaran yang diharapkan pula.

Karenanya, bagi seorang Muslim, iman harusnya menjadi masukan penting agar bisa melahirkan sikap dan kepribadian yang baik.

Iman adalah sumber energi jiwa yang senantiasa memberikan kekuatan yang tidak ada habis-habisnya untuk bergerak memberi, menyemai kebaikan, kebenaran dan keindahan dalam taman kehidupan, atau bergerak mencegah kejahatan, kebatilan dan kerusakan di permukaan bumi.

Iman juga merupakan gelora yang mengalirkan inspirasi kepada akal pikiran, yang kelak melahirkan bashirah (mata hati), yakni sebuah pandangan yang dilandasi oleh kesempurnaan ilmu dan keutuhan keyakinan.

Iman juga sebuah cahaya yang menerangi dan melapangkan jiwa kita, yang kelak melahirkan taqwa, sikap mental tawadhu (rendah hati), wara’ (membatasi konsumsi dari yang halal), qana’ah (puas terhadap karunia Allah), yaqin (kepercayaan yang penuh atas kehidupan abadi).

Iman adalah bekal yang menjalar di seluruh bagian tubuh kita, hingga lahirlah harakah (gerakan); sebuah gerakan yang terpimpin untuk memenangkan kebenaran atas kebatilan, keadilan atas kezaliman, kekuatan jiwa atas kelemahan. Iman menentramkan perasaan, mempertajam emosi, menguatkan tekat dan menggerakkan raga.

Intinya, iman mengubah individu menjadi baik. Ia mampu mengubah yang kaya menjadi dermawan, dan miskin menjadi ‘iffah (menjaga kehormatan dan harga diri). Ia juga bisa membuat yang berkuasa menjadi adil, dan yang kuat menjadi penyayang, yang pintar menjadi rendah hati, dan yang bodoh menjadi pembelajar. Itulah iman.

Prinsip Hidup

Orang mukmin adalah sosok manusia yang memiliki prinsip hidup yang dipeganginya dengan erat. Ia berkerja sama dengan siapapun dalam kebaikan dan ketakwaan. Jika lingkungan sosialnya mengajak kepada kemungkaran, ia mengambil jalan sendiri.

“Janganlah ada di antara kamu menjadi orang yang tidak mempunyai pendirian, ia berkata: Saya ikut bersama-sama orang, kalau orang-orang berbuat baik, saya juga berbuat baik, dan kalau orang-orang berbuat jahat sayapun berbuat jahat. Akan tetapi teguhkanlah pendirianmu. Apabila orang-orang berbuat kebajikan, hendaklah engkau juga berbuat kebajikan, dan kalau mereka melakukan kejahatan, hendaknya engkau menjauhi perbuatan jahat itu.” (Riwayat at-Turmudzi).

Orang mukmin yang sejati mempunyai harga diri, tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang hina. Apabila ia terpaksa melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak pantas, perbuatannya itu ia sembunyikan dan tidak dipertontonkan di hadapan orang banyak. Ia masih memiliki rasa malu jika aibnya diketahui –apalagi—ditiru orang banyak.

Karenanya sungguh aneh, saat ini seorang terdakwa kasus pornografi –yang terbukti melakukan maksiat dan menvideokannya—masih bisa tersenyum dan tak merasa bersalah di depan publik.

Seorang mukmin yang baik, ia berani menegakkan kebenaran sekalipun rasanya pahit. Untuk memenuhi perintah Allah, tidak untuk memperoleh maksud duniawi yang rendah dan untuk tujuan jangka pendek dan kenikmatan sesaat. Jika ia membiarkan kebatilan mendominasi kehidupan, maka imannya seolah terjangkiti virus kelemahan. Seorang mukmin teguh pendirianya, bagaikan batu karang di tengah lautan. Tegar dari amukan badai dan hempasan gelombang serta pasang surut lautan.

Kekuatan jiwa seorang muslim, terletak pada kuat dan tidaknya keyakinan yang dipeganginya. Jika akidahnya teguh, kuat pula jiwanya. Tetapi jika akidahnya lemah, lemah pula jiwanya. Ia tinggi karena menghubungkan dirinya kepada Allah Yang Maha Agung dan Maha Tinggi.

Orang beriman dalam beramal dan mengabdi hanya mengharapkan ridha Allah semata. Ia merupakan manusia yang menakjubkan. Karena ia dianggap sebagai inti (jauhar) dari unsur-unsur yang ada di alam semesta. Tak peduli julukan, stigma atau sebutan negatif oleh pihak lain.

Iman akan selalu memberikan ketegaran, keteguhan jiwa kepada pemiliknya, sekalipun berhadapan dengan kezaliman raja, bahkan melawannya.

قَالُوا لَن نُّؤْثِرَكَ عَلَى مَا جَاءنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالَّذِي فَطَرَنَا فَاقْضِ مَا أَنتَ قَاضٍ إِنَّمَا تَقْضِي هَذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

"Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia Ini saja.” (QS. Thaha (20) : 72).

Imanlah memberikan ketenangan jiwa Nabi Musa as. ketika dihadapkan dengan kenyataan pahit.

Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa:

فَلَمَّا تَرَاءى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ
قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ

"Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul. Musa menjawab, “Sungguh tidak akan tersusul, sesungguhnya Tuhanku bersamaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah bagaikan gunung yang besar.” (QS. 26 : 61-63).

Iman jualah yang menjadikan Nabiyullah Muhammad Saw tertidur dengan pulas di saat bersembunyi di sebuah gua, dalam perjalanan hijrah ke Madinah. Padahal waktu itu nyawanya sedang terancam.

إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS.at Taubah [9]: 40).

Karenanya, kedudukan, kekayaan, kepandaian yang tidak ditemani oleh iman, ia hanya akan membuat pemburunya kecewa. Seolah disangka berupa air yang bisa membasahi kerongkongan yang kering karena kehausan. Padahal setelah didatanginya hanya berupa fatamorgana.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاء حَتَّى إِذَا جَاءهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئاً وَوَجَدَ اللَّهَ عِندَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya .” (QS. An-Nuur [24]: 39).

Karenanya, kata Allah, orang-orang kafir, karena amal-amal mereka tidak didasarkan atas iman, tidaklah mendapatkan balasan dari Tuhan di akhirat, walaupun di dunia mereka mengira akan mendapatkan balasan atas amalan mereka itu.

rep. Halali Sahri

Artikel - Bekal Hadapi Pasang Surut Kehidupan

SIFAT dasar dunia adalah fana’, tidak abadi. Segala yang kita temui di sini pada hakikatnya tidak pernah menetap, namun selalu berubah. Sebagai misal, betapa banyak penguasa yang tumbang. Di masa jayanya, setiap mata mdrasa iri kepada yang mereka miliki, namun belum lagi siang berganti malam, tiba-tiba roda nasib melibas mereka. Sekarang, mereka tidak dilirik barang sedikit pun, bahkan secara terbuka dicaci dan dinistakan martabatnya.

Alkisah, dulu di Jazirah Arab terdapat sebuah kerajaan bernama Hirah. “Kerajaan bayangan” dari Kekaisaran Persia ini kemudian runtuh pada zaman ‘Umar bin Khattab, seiring kejatuhan induknya. Suatu kali, Ziyad bin Muhallab, seorang jenderal termasyhur pada zaman Umawiyah, berjumpa dengan Hindun binti Nu’man, putri penguasa terakhir Hirah. Ziyad pun memintanya bercerita, lalu Hindun berkata, “Kami memasuki waktu pagi dari hari ini, sementara tidak seorang pun dari bangsa Arab melainkan pasti mengharapkan kami. Lalu, kami memasuki waktu senja, sementara tidak seorang pun di antara bangsa Arab melainkan pasti merasa kasihan kepada kami.” (Riwayat Ibnu Abi Dunia dalam al-I’tibar, no. 10).

Demikianlah faktanya. Saat ini, terlalu banyak contoh serupa untuk disajikan. Kita bisa menderetkan kisah-kisah terbaru dari Iraq, Tunisia, Mesir, dan Libya.

Negeri kita sendiri pun merupakan gudang kasus-kasus kebangunan dan kejatuhan para penguasa, politikus serta selebritis. Masih terbayang dalam benak kita lambaian tangan dan senyum mereka di podium-podium kehormatan, namun belum lagi siang berganti malam, tiba-tiba perputaran nasib telah menjungkalkan mereka. Sebagian mereka ditahan dan menghadapi dakwaan berlapis, tanpa harapan lolos. Sebagian lagi tewas terbunuh dan diperlakukan lebih buruk dari seekor anjing. Lalu, sebagian lainnya mati dalam keadaan putus asa, atau hidup nista dan diabaikan. Ini baru masalah-masalah pelik yang mereka hadapi di dunia, dan entah bagaimana nanti nasib mereka di akhirat.

Ini adalah contoh-contoh spektakuler. Bila skala kejadian dan pelakunya dikecilkan, maka tidak terbilang lagi padanannya.

Pelajaran yang mestinya diambil adalah: jangan terlampau mendalam menyikapi dunia ini, karena segalanya mudah sekali berganti. Kegembiraan, kekayaan, kelapangan, kesehatan, dan canda tawa, betapa mudah berubah menjadi kesedihan, kemelaratan, kesempitan, sakit, dan dukacita. Kematian pun bisa menghapus kehidupan dengan seribu satu macam cara.

Maka, tiada pilihan terbaik kecuali bersiaga menghadapi pasang-surutnya. Dalam pandangan Islam, ia mestinya ditempuh pertama-tama dengan memperbaiki hati. Karena hati adalah raja, maka dialah kunci nasib dari seluruh anggota kerajaannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ingatlah, bahwa di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah, ia adalah hati.” (Riwayat Bukhari-Muslim, dari Nu’man bin Basyir).

Masalahnya, manusia tidak berkuasa atas hatinya sendiri. Hati sepenuhnya berada di bawah kendali Allah. Kita mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya hati anak Adam itu berada diantara dua jari Allah yang Maha Pengasih, seolah-olah satu hati saja. Dia akan memalingkannya kemana saja yang Dia kehendaki.” Beliau kemudian melanjutkan dengan berdoa, “Ya Allah, Dzat yang kuasa memalingkan hati, palingkanlah hati-hati kami ke arah ketaatan kepada-Mu.” (Riwayat Muslim, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash).

Jika memperbaiki hati merupakan keharusan, sementara hati berada di bawah kuasa Allah, maka tiada cara lain kecuali menuruti kehendak-Nya. Dia paling tahu apa yang bisa merusak atau memperbaiki hati itu. Lalu, apa yang Dia kehendaki dari kita? Allah berfirman;

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Qs. adz-Dzariyat: 56).

Tepatnya, Allah meminta kita beriman dan beramal shalih. Hanya iman dan amallah yang bisa memperbaiki hati dan menjadikannya tangguh dalam mengarungi samudera kehidupan.

Dikatakan dalam sebuah hadits: “Perkenalkanlah dirimu kepada Allah pada saat engkau sejahtera, niscaya Dia mengenalimu pada saat engkau mengalami kesulitan.” (Riwayat Ahmad, dari Ibnu ‘Abbas. Hadits shahih).

Menurut Ibnu Rajab dalam Jami’ul Ulum wal Hikam, maksudnya adalah: “Bila seorang hamba bertakwa kepada Allah, tidak melanggar batas-batas aturan-Nya, dan senantiasa memelihara hak-hak-Nya pada saat ia sejahtera, maka ia telah memperkenalkan dirinya kepada Allah, sehingga ada (hubungan) perkenalan khusus diantara dirinya dengan Tuhannya. Maka, Tuhannya pasti akan mengenalinya pada saat ia tertimpa kesulitan dan memelihara (hubungan) perkenalan dengannya (sebagaimana) pada saat ia sejahtera. Maka, berkat perkenalan inilah Allah menyelamatkannya dari kesulitan-kesulitan. Ini adalah (hubungan) perkenalan khusus yang dapat diartikan sebagai telah dekatnya hamba itu dengan Tuhannya, kecintaan-Nya kepadanya, dan dikabulkan-Nya doannya.”

Jadi, hanya dengan menaati Allah jiwa kita akan terbekali ketahanan untuk menghadapi pasang-surut kehidupan, sebab ia didukung oleh Allah secara langsung. Tanpanya, jiwa akan mudah ambruk dan akhirnya binasa.

Oleh karenanya, Qatadah bin Di’amah (seorang Tabi’in) berkata, “Sesungguhnya amal shalih itu mengangkat (derajat) pelakunya pada saat ia kuat, dan tatkala ia terjatuh maka ia mendapati tempat bersandar.” (Riwayat Ahmad dalam kitab az-Zuhd, no. 183). Dan, Allah-lah sebaik-baik penolong serta tempat bersandar. Wallahu a’lam.

Sedekah Tepat Sasaran

Dalam satu hari, kita diberi Allah kesempatan 24 jam untuk beraktifitas. Untuk sebagian orang, 24 jam merupakan waktu yang cukup untuk melakukan aktifitas sehari-harinya. Akan tetapi, bagi mereka yang berkegiatan super padat, kerap mengatakan waktu 24 jam tidaklah cukup untuk memenuhi seluruh kegiatan mereka.

Dari situlah muncul yang namanya skala prioritas. Bagaimana kita memilih dari sekian banyak kegiatan harian kita, sehingga tidak terjadi salah atur. Atau malah sampai berakibat fatal, karena kita tidak melakukan kegiatan yang nilainya teramat penting bagi kita.

Contoh yang real dalam aktivitas harian kita. Mana yang harus kita dahulukan, antara menyelesaikan pekerjaan, dan segera mengerjakan sholat ketika adzan sudah terdengar? Saya yakin, kita semua sependapat, menyambut adzanlah yang kita dahulukan.

Itulah yang dinamakan prioritas. Menempatkan antara dua, atau lebih agenda, pada kategori yang proporsional. Salah satu resep yang sering digunakan dalam menentukan skala prioritas adalah membaginya menjadi beberapa kategori,

1. Penting dan mendesak

Penting dan mendesak berarti harus dikerjakan dan tidak bisa ditunda. Jika ditunda kesempatan hilang, dan jika kesempatan hilang peluang sukses terganggu.

2. Penting dan tidak mendesak

Penting dan tidak mendesak berarti harus dikerjakan tapi boleh ditunda, karena waktunya tidak harus sekarang.

3. Tidak penting namun mendesak

Urusan ini harus dikerjakan sekarang, jika ditunda kesempatan hilang, namun tidak mengganggu tercapainya tujuan.

4. Tidak penting dan tidak mendesak

Mungkin tidak perlu dilakukan, hanya memboroskan waktu saja.

Pembagian di atas yang biasanya digunakan untuk menentukan skala prioritas. Mana yang harus lebih dahulu kita lakukan, dan mana yang tidak perlu kita lakukan.

Selain dalam kegiatan sehari-hari, penentuan skala prioritas juga bisa kita dapati dalam amal ibadah. Istilah yang digunakan para ulama’ adalah fiqh ‘Uluwiyat (Fiqh Prioritas). Dimana dengannya kita bisa menentukan amalan mana yang layaknya lebih didahulukan daripada amalan lainnya. Contoh yang paling mudah adalah, sholat Wajib harus kita lebih dahulukan daripada sholat sunnah. Jadi, ketika kita mendengar iqomah tanda sholat wajib telah didirikan, maka kita dilarang untuk melakukan sholat sunnah.

Dakwah kepada keluarga layaknya lebih didahulukan sebelum melanglang buana berdakwah hingga negeri seberang. Syahadat lebih didahulukan sebelum amal ibadah lainnya. Mempelajari permasalahan Aqidah lebih didahulukan sebelum perkara agama selainnya.

Prioritas dalam bersedekah

Setidaknya ada 2 hal yang amat mendasar kita bisa jadikan landasan dalam menentukan prioritas sedekah kita,

a. Prioritas hukum

Prioritas dalam ibadah harus disesuaikan dengan tingkatan hukumnya. Fardhu `ain harus diprioritaskan di atas fardhu kifayah, yang wajib harus didahulukan daripada yang sunah, dan yang sunah harus lebih diutamakan daripada yang makruh.

Berdasarkan tingkatan hukum inilah kita harus menekankan diri agar menunaikan kewajiban terlebih dahulu sebelum melakukan amalan-amalan sunnah. Kita harus mendahulukan membayar zakat (zakat mal maupun zakat fitrah), memberi nafkah yang mencukupi untuk keluarga, dan kewajiban-kewajiban lain sebelum menunaikan amalan atau sedekah yang sifatnya sunnah.

Merupakan kesalahan sikap apabila kita rajin membagi-bagikan uang kepada para tetangga tetapi anak dan istri justru kita biarkan telantar tanpa nafkah sedikit pun. Atau, kita rajin mengeluarkan uang untuk ini dan itu tetapi zakat yang sifatnya wajib justru tidak pernah kita tunaikan.

“Di antara tanda mengikuti hawa nafsu adalah bersegera melakukan amalan sunnah namun malas menunaikan amalan wajib.” (Ibnu Atha’illah As-Sakandary, pengarang kitab Al-Hikâm)

b. Prioritas penerima.

Untuk mengurai skala prioritas penerima sedekah, kita bisa mencermati firman Allah, di antaranya adalah Q.S. Al-Baqarah [2]: 177 dan Q.S. An-Nisa’ [4]: 36. Kita juga bisa mencermati hadits-hadits Nabi saw, di antaranya adalah hadits dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw pernah ditanya, “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Sedekah untuk orang yang dalam kesusahan dan kekurangan. Dan dahulukanlah orang yang menjadi tanggunganmu.” (H.R. Ahmad dan Abu Dawud)

1. Istri, anak, dan orangtua yang menjadi tanggungan kita.

2. Kerabat.

3. Anak yatim dan orang-orang miskin.

4. Tetangga dan teman sejawat.

5. Orang-orang yang dalam perjalanan (musafir) dan para peminta.

Mengapa sedekah harus tepat sasaran? Jawabnya, sedekah harus tepat sasaran agar nilai kemanfaatnya lebih besar dan kefungsiannya mencangkup skala yang lebih luas. Karen nilai sedekah bukan selain dinilai dari jumlah nominalnya, dinilai juga pada sisi kemanfaatannya

Sedekah Tepat Arah

Mengapa sedekah harus tepat sasaran? Jawabnya, sedekah harus tepat sasaran agar nilai kemanfaatnya lebih besar dan kefungsiannya mencangkup skala yang lebih luas. Karen nilai sedekah bukan selain dinilai dari jumlah nominalnya, dinilai juga pada sisi kemanfaatannya.

Manakah yang lebih diprioritaskan, memberikan sedekah bagi seseorang yang tak lagi mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sampai-sampai tidak makan 3 hari, dengan memberikan sedekah kepada seseorang yang masih mampu berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya?

Oleh karena itu, masih ada satu landasan lagi yang perlu kita ketahui agar sedekah kita benar-benar bisa sampai pada sasaran yang tepat. Yaitu, prioritas kebutuhan dan kemanfaatan.

Prioritas dalam kategori ini bisa beragam wujudnya. Di antaranya sebagai berikut.

1. Orang yang dalam kondisi darurat harus didahulukan daripada yang tidak darurat.

2. Orang yang lemah harus didahulukan daripada yang kuat.

3. Orang yang shalih harus didahulukan daripada yang tidak shalih.

4. Bantuan yang manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak orang lebih diutamakan daripada yang hanya dirasakan oleh satu atau beberapa orang saja.

5. Barang yang mendesak dibutuhkan harus didahulukan daripada barang yang tidak mendesak dibutuhkan.

Contoh simpelnya, kita harus lebih mendahulukan untuk menolong seorang pemulung yang nyaris mati kelaparan, meski dia tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan kita daripada saudara kita yang miskin tapi masih mampu makan kesehariannya. Begitu pula, jika ada 2 orang yang sama-sama membutuhkan, yang seorang adalah ta’mir masjid di komplek kita, dan yang lainnya adalah preman pasar yang kerap kali meresahkan warga. Maka, sudah menjadi maklum jika kita mendahulukan sang ta’mir daripada preman pasar.

Akhirnya, mari kita bangun jiwa sosial yang berselimutkan syari’at agar seluruh kegiatan kita berbuah manis di dunia maupun di akhirat sana. Wallahu a’lam. (baitulmalfkam.com)

Thursday, August 9, 2012

Artikel - Memburu Lailatul Qadar dengan Itikaf di Masjid

Ber’itikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan sunnah Nabi Muhammad Saw. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra:

“Bahwasannya Nabi Saw senantiasa melakukan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah Swt. Kemudian para istri beliau pun melakukan I’tikaf sepeninggal beliau.” (Muttafaq ‘alaih).

Dalam sebuah riwayat shahih yang bersumber dari Rasulullah disebutkan, “Ketika sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan datang, Rasulullah lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah dan tidak seperti di hari-hari biasanya.” (HR. Ibnu Majah).

Dalam hadits yang lain, Aisyah ra meriwayatkan, “Saat itu, jika sepuluh hari terakhir telah menjelang, Rasulullah lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah, menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan istri-istrinya agar beribadah bersama beliau.” (HR. Muslim).

Itikaf adalah mengasingkan diri – untuk sementara waktu – dari kesibukan dunia dan mengonsentrasikan diri untuk beribadah kepada Allah. Pada malam harinya, kita dianjurkan untuk menghidupkan malam selama 10 hari terakhir Ramadhan. Yang dimaksud dengan menghidupkan malam adalah mengerjakan shalat malam, beribadah, dan melakukan ketaatan (kebaikan).

Mau tahu rahasia dibalik anjuran bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir? Pertama, karena sepuluh hari ini merupakan penutup bulan penuh berkah, sementara kebaikan suatu amal sangat tergantung pada akhirnya.

Kedua, boleh jadi Lailatul Qadar jatuh pada malam tersebut. Bahkan ada beberapa hadits shahih yang menyatakan bahwa Lailatul Qadar akan jatuh pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Oleh karena itu, orang yang cerdik dan bijak akan bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir tersebut. Dengan harap-harap cemas, kita berharap dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.

Memburu Lailatul Qadar

Diantara keutamaan Lailatul Qadar adalah bahwa setiap amalan di dalamnya, pahala dan ganjarannya lebih baik daripada 1.000 bulan. Adapun 1.000 bulan setara dengan 83 tahun 4 bulan.

Mengenai tanggal, hari dan jam turunnya Lailatul Qadar tidak ditegaskan oleh Allah dan Nabi Muhammad Saw. Nabi sendiri pernah bersabda: “Pernah diperlihatkan kepadaku Lailatul Qodar, kemudian dijadikan aku lupa kepadanya.” (HR. Muslim).

Dalam beberapa hadits, Nabi bersabda: Lailatul Qadar jatuh antara tanggal 21-akhir Ramadhan.Oleh karena itu, kita tidak dapat dan tidak berhak menentukan waktu Lailatul Qadar. Allah sengaja merahasiakan datangnya Lailatul Qadar dari sekian banyak malam Ramadhan, agar manusia beribadah pada seluruh malam Ramadhan.

Sepanjang keterangan agama, saat Lailatul Qadar, kita dianjurkan beri’tikaf, shalat dan membangunkan anak-istri untuk shalat bersama-sama. Tidak diperintahkan kita mengagungkan malam itu dengan sesuatu upacara atau ritual aneh , kecuali yang telah dicontoh Nabi Saw.

Para ulama mengatakan, “Allah sengaja merahasiakan datangnya Lailatul Qadar dengan alasan tertentu, agar: manusia beribadah pada seluruh malam terakhir Ramadhan.

Dalam shahih Bukhari dan Muslim disebutkan sebuah riwayat yang berasal dari ‘Ubadah bin ash-Shamit, bahwa dia berkata, “Nabi pernah menemui kami untuk mengabarkan datangnya Lailatul Qadar, tapi ternyata ada dua orang dari kaum muslimin yang saling mengutuk.

Rasulullah saw kemudian berkata: “Sungguh, aku keluar untu mengabarkan datangnya Lailatul Qadar kepada kalian. Akan tetapi teryata Fulan dan Fulan saling mengutuk, sehingga kabar tersebut ditarik kembali oleh Allah. Dan, barangkali hal itu akan lebih baik bagi kalian semua. Karena itu, songsonglah Lailatul Qadar tersebut pada malam kesembilan, malam ketujuh, dan malam kelima (di sepuluh hari terakhir).

Dalam sebuah hadits, Ummul Mukminin, 'Aisyah ra pernah bertanya kepada Rasulullah, apakah yang harus aku baca seandainya aku bisa mendapatkan Lailatul Qadar? Rasulullah menjawab, “Katakanlah, Wahai Allah…Sesungguhnya Engkau adalah Zat yang Maha Pengampun dan suka mengampuni hamba-Nya. Maka ampunilah aku. Jadi, malam Lailatul Qadar ini lebih diutamakan untuk berdoa.”

Dengan demikian, orang yang ingin mendapatkan Lailatul Qadar, hendaknya ia menyongsong di setiap malam, barangkali ia mendapatkannya pada salah satu malam.

Adab Itikaf

Saat beritikaf harus memiliki ada-adab yang menentukan sah dan sempurnanya I’tikaf, termasuk kapan mulainya dan kapan berakhirnya.

“Jika Rasulullah Saw berkeinginan melakukan I’tikaf, beliau menunaikan shalat Fajar (Subuh), kemudian masuk ke tempat I’tikafnya.” (Muttafaq ‘alaih).

Selama ber’itikaf hendaklah memerhatikan adab-adab berikut: Pertama, tidak melakukan jima’ (senggama), berdasarkan ayat “Janganlah kalian menggauli istri-istri itu, sedangkan kalian beri’tikaf dalam masjid.” (QS. al-Baqarah:187).

Kedua, tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan tujuan I’tikaf, seperti keluar untuk bersenggama dengan istri di rumah, keluar untuk menekuni pekerjaannya, atau melakukan profesinya di tempat itikafnya, keluar untuk bertransaksi jual-beli. Apabila itu dilakukan, maka itikafnya batal.

‘Aisyah ra berkata, “Sesungguhnya jika Nabi Saw sedang beri’tikaf, beliau biasanya tidak masuk rumah, kecuali untuk suatu hajat (pada riwayat Muslim: untuk hajat manusiawi) (Muttafaq’ alaih)

Ketiga, disunnahkan menyibukkan diri dengan berbagai macam ibadah khusus, seperti shalat sunnah qiyamullail, membaca al-Qur’an, berzikir, berdo’a, bersholawat serta beristighfar.

Keempat, disunnahkan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat, baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, maupun lainnya.

Selanjutnya I’tikaf berakhir ketika terbenam matahari di malam ‘Id dan tidak disyariatkan menunggu esok harinya hingga menjelang shalat ‘id. Ini merupakan pendapat jumhur (mayoritas) ulama.